liputanbangsa.com – Faisal Basari selaku pakar ekonomi senior sebut Indonesia miliki persoalan yang membuatnya masih menjadi negara berkembang, yakni kondisi pertumbuhan Indonesia yang menurun drastis.
Penurunan drastis dari pertumbuhan Indonesia ini ditandai dengan pertumbuhan sektor barang di Indonesia yang hanya mencapai 5,31%, angka tersebut masih di bawah pertumbuhan ekonomi tahun ini. Selain itu, penurunan drastis juga dialami industri manufaktur di Indonesia.
“Penurunan industri manufaktur dalam PDB di Indonesia kencang banget, belum tinggi sudah turun, terus turunnya tinggi sekali. Bandingkan dengan China, Thailand, Korea, Korea saja negara maju industrinya masih kencang. Indonesia sudah jauh meninggalkan industri bahkan ini akan disusul oleh Vietnam,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/2).
Faisal mengatakan pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia telah alami penurunan drastis sejak lama di tahun 2001.
Dilihat dari data yang ditunjukkannya, kondisi pertumbuhan manufaktur Indonesia anjlok hingga 18,3% setelah sebelumnya di tahun 2001 mencapai angka 29,1%.
Angka tersebut menunjukkan secara nyata bahwa kondisi manufaktur Indonesia sangat rendah. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti China dan Thailand, Indonesia kalah jauh. China sudah mencapai di level 40,1%, sedangkan Malaysia dan Thailand berada di angka 31%.
“Industri kita baru 29% sudah turun, harusnya naik lagi, dia turunnya terlalu cepat makanya disebut early sign of deindustrialization. China industrinya bakal turun, tapi sudah mencapai industri yang paripurna baru turun, Malaysia 31% baru turun, Thailand 31% sudah turun, Indonesia belum 30% sudah turun,” tuturnya.
Faisal menyampaikan produk Indonesia belum mampu bersaing di kancah Internasional. Dilihat dari data, ia menyampaikan sektor jasa di Indonesia adalah satu dari 17 sektor penopang perekonomian Indonesia yang berada di atas PDB Indonesia tahun 2022 sejumlah 5,31%. Sementara itu, sisanya sektor barang seperti pertanian, industri manufaktur dan pertambangan berada di bawah itu.
“Kita lihat kualitas pertumbuhan yang tumbuh luar biasa sampai 19% (transportasi) dan 12% (akomodasi) yang tinggi ini semuanya tanpa terkecuali adalah sektor jasa. Sektor jasa ini umumnya enggak bisa diekspor, misalnya sektor listrik, jasa pemerintahan, tidak bisa, dia jago kandang. Jadi bisa dikatakan bahwa sektor yang tumbuh besar adalah sektor yang jago kandang,” imbuhnya.
Dinilai miliki nilai kompetitif, membuka banyak lapangan kerja formal, dan bisa mendorong ekspor Indonesia, sektor barang seperti pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur Indonesia jika didukung untuk bertumbuh tinggi seharusnya bisa menjadi peluang untuk mendongkrak perekonomian Indonesia. Hanya saja untuk saat ini nilai pertumbuhannya masih setengah dari pertumbuhan sektor jasa.
Jadi sekarang jasa kita dominan lebih dari separo jadi mirip negara maju. Indonesia masih lower middle, tapi struktur ekonominya sudah mirip negara maju, yang sektor jasanya sudah dominan,” tandasnya. (afifah/lbi)

