Duka dari Tual, Tekad di Semarang: Diguyur Hujan Deras, Mahasiswa Tetap Lantang Tuntut Reformasi Polri

Demo Mahasiswa Semarang Tuntut Reformasi Polri, Hujan Deras Tak Padamkan Semangat Aksi

liputanbangsa.com Demo Mahasiswa Semarang berlangsung di depan Polda Jawa Tengah pada Kamis sore (26/02) meski hujan deras mengguyur sejak awal aksi. Mahasiswa lintas kampus tetap berkumpul untuk menyuarakan solidaritas atas meninggalnya pelajar di Kota Tual, Maluku. Massa memadati titik aksi dengan membawa banner dan tuntutan reformasi Polri. Hujan tidak menghentikan barisan mahasiswa yang berdiri rapat di sepanjang jalan. Tekad kolektif mereka justru semakin terlihat kuat di bawah guyuran air.

Solidaritas Lintas Kampus dan Suasana Aksi

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat tanpa insiden berarti. Mimbar bebas menjadi ruang artikulasi kegelisahan sekaligus harapan akan perubahan nyata. Mahasiswa berdiri rapat di jalanan, sebagian mengenakan jas hujan tipis, sebagian lain membiarkan tubuhnya kuyup. Solidaritas lintas kampus menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat. Energi kolektif itu menjadikan sore yang muram terasa penuh makna.

Tuntutan Reformasi Polri Menggema di Polda Jateng

Dalam demo mahasiswa Semarang tersebut, orator menyampaikan seruan secara bergantian dari mimbar bebas. Suara mereka menggema menembus hujan yang tak kunjung reda. Massa menegaskan tuntutan reformasi Polri serta mendesak penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan. Mahasiswa menjaga aksi tetap damai dengan pengawalan aparat. Situasi terkendali hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Shila(bukan nama sebenarnya), mahasiswi Universitas PGRI Semarang yang juga aktif dalam gerakan perempuan Barapuan di Semarang, tampil menyuarakan kegelisahannya melalui orasi. Saat diwawancarai, ia memandang kehadiran di lokasi aksi sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus penggunaan hak suara sebagai warga negara. “Dimana masyarakat satu terluka, dimana masyarakat satu terluka, dimana masyarakat berasa sedih, kita semua harus merasa sedih,” ujarnya dengan nada tegas. Ia menilai berbagai kasus kekerasan aparat yang belum menemukan kejelasan telah melukai rasa keadilan publik. “Saya cuma berharap di negara kita ada keadilan,” katanya.

Aksi Orasi di Depan Polda Jawa Tengah

Mahasiswa Desak Aparat Tegakkan Hukum

Pandangan kritis juga shila arahkan pada pentingnya aparat memahami batas kewenangan serta aturan hukum yang berlaku. “Negara kita negara hukum. Dimana yang berbuat itu, apapun jabatannya juga harus dihukum. Seperti itu yang penting adalah keadilan di negara kita,” ucapnya.

Daffa Allifrizki Medu, mahasiswa Universitas Diponegoro yang juga menjabat Ketua BEM FIB, turut menyampaikan pandangannya saat diwawancarai di sela aksi. Ia menyinggung bagaimana mahasiswa tetap bertahan meski harus hujan-hujanan dari awal hingga akhir kegiatan sebagai bentuk kepedulian terhadap berbagai persoalan di negara ini. “Itu sudah menunjukkan bahwa kita sangat aware lah terhadap semua permasalahan yang ada di negara ini,” ujarnya. Tuntutan yang menurutnya paling utama adalah agar seluruh pelaku segera diadili. “Tapi mungkin yang paling utama dulu, yang paling terdekat, tolong adili semua para oknum. Ya, mungkin mereka nyebutnya oknum ya. Cuma kita nyebutnya pelaku.  Adili dulu, baru step by step.” tegasnya.

Aksi orasi di depan Polda Jawa Tengah
Aksi Damai Berakhir Saat Waktu Berbuka

Menjelang waktu berbuka puasa, massa tetap menjaga ketertiban hingga rangkaian orasi selesai. Kemudian, koordinator lapangan mengarahkan pembubaran secara tertib sekitar pukul 18.30 WIB. Sejumlah mahasiswa langsung membatalkan puasa bersama di pinggir jalan dengan hidangan sederhana. Meski hujan masih menyisakan basah di aspal, semangat mereka tetap terasa kuat. Akhirnya, jalanan menjadi saksi bahwa komitmen mahasiswa Semarang tidak padam oleh cuaca.

 

ByRista

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *