liputanbangsa.com – Sebuah hasil penelitian terbaru dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) pada Mei 2025 mengungkapkan fakta mengejutkan.
Udara di sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo sudah tercemar mikroplastik?
Ini bukan sekadar isu lingkungan biasa, tapi ancaman serius yang bisa masuk langsung ke dalam tubuh, bahkan hingga ke otak kita!
Ecoton mengambil sampel udara di enam desa di Sidoarjo, termasuk Tropodo, Wonoayu, Waru, Sepanjang, Sukodono, dan kawasan Alun-Alun Sidoarjo.
Hasilnya? Total 172 partikel mikroplastik ditemukan, terdiri dari fiber, fragmen, dan filamen.
Di sekitar pabrik tahu Desa Tropodo saja, ditemukan 13 fiber dan 12 filamen.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah Kecamatan Wonoayu, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Tropodo.
Di sana, tingkat kontaminasi mencapai 65 partikel hanya dalam waktu tiga jam!
Alaika Rahmatullah, Koordinator Pendidikan dan Kampanye Ecoton, menegaskan bahwa paparan mikroplastik di udara sangat mengkhawatirkan.
“Ini menjadi salah satu jalur utama partikel plastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan,” ujarnya, Senin (9/6/2025).
Dari Udara ke Otak: Indonesia Jadi Sorotan Dunia dengan Konsumsi Mikroplastik Tertinggi

Tahukah Anda? Rata-rata manusia menghirup 0,1 hingga 5 gram mikroplastik per minggu.
Kontaminasi yang terus-menerus ini berisiko memicu gangguan kesehatan serius, seperti neuroinflamasi dan penyakit autoimun, karena mikroplastik bisa menembus jaringan otak.
Temuan ini semakin menguatkan kekhawatiran global.
Riset terbaru di Meksiko pada tahun 2025 bahkan membuktikan adanya akumulasi mikroplastik dalam otak manusia yang telah meninggal dunia.
Plastik jenis polietilen, yang banyak berasal dari botol air kemasan, ditemukan dalam proporsi besar di jaringan otak, bahkan lebih tinggi dibanding di hati dan ginjal!
“Ini peringatan keras bagi masyarakat Indonesia. Konsumsi mikroplastik warga Indonesia mencapai 15 gram per bulan, tertinggi di dunia,” tambah Alaika, alumni Biologi UIN Malang.
Sebelumnya, Ecoton juga menemukan 141 partikel mikroplastik di udara Pasar Benjeng, Gresik pada Februari 2025, menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya terjadi di Sidoarjo
Siapa Biang Keroknya? Kebiasaan Kita Sendiri!
Jadi, apa penyebab utama pencemaran ini? Salah satunya adalah kebiasaan pembakaran sampah plastik yang masih dilakukan oleh 57 persen warga Jawa Timur.
Selain itu, gesekan ban kendaraan, serat dari pakaian berbahan poliester, sistem pengelolaan sampah terbuka, dan industri daur ulang plastik juga turut berkontribusi.
Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2025 yang mengusung tema “Ending Plastic Pollution”, Ecoton mendesak pemerintah untuk segera bertindak tegas.
Mereka menuntut penegakan hukum larangan pembakaran sampah plastik, penghentian teknologi pengolahan sampah berbasis pembakaran.
Pengendalian sumber mikroplastik di udara, serta penetapan baku mutu mikroplastik di lingkungan dan produk konsumsi seperti makanan laut.
Hingga berita ini dinaikkan, belum ada keterangan resmi dan Pemkab Sidoarjo.
Â
(ar/lb)

