Pasar Terapung Malam di Banjarmasin Viral, Banyak Kuliner hingga Lampion di Atas Sungai

liputanbangsa.comKota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kembali mencuri perhatian warganet setelah viralnya Pasar Terapung Malam Hari pertama di Indonesia, yang digelar di Sungai Martapura.

Berbeda dari pasar terapung tradisional yang biasanya buka pagi hari, Pasar Terapung Siring Malam ini menghadirkan suasana romantis nan semarak lengkap dengan lampion terapung, musik akustik, dan aneka kuliner khas Banjar.

Pasar ini mulai beroperasi sejak April 2025 setiap akhir pekan, dari pukul 18.00 hingga 22.00 WITA, dan langsung menyedot perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara.

Video suasana malam penuh lampu warna-warni di atas air dengan pedagang berperahu menjajakan makanan menjadi viral, bahkan trending di TikTok dengan tagar #FloatingNightMarket.

Sebanyak 50 perahu kecil berjejer di tepi sungai, masing-masing dihiasi lampu LED dan lentera gantung.

Pengunjung yang datang bisa naik perahu wisata keliling pasar, atau menikmati suasana dari tepian sambil mencicipi jajanan khas seperti soto banjar, lupis ketan, bingka kentang, serta teh tarik rempah.

Semua transaksi dilakukan secara langsung dari perahu ke perahu dengan tongkat bambu panjang, mempertahankan cara tradisional jual beli air.

Keunikan lainnya adalah hadirnya lampion-lampion berbentuk jukung dan burung enggang yang diterbangkan di atas sungai, menciptakan efek visual magis di atas permukaan air.

Selain itu, pertunjukan musik akustik dayak dan tari tradisional juga rutin digelar di panggung terapung yang terbuat dari rakit kayu.

Pasar ini diinisiasi oleh gabungan komunitas seni, pelaku UMKM, dan pemerintah kota Banjarmasin sebagai bagian dari revitalisasi wisata sungai malam hari.

Dengan dukungan dana dari program pemulihan ekonomi kreatif, Pasar Terapung Siring Malam kini menjadi ikon baru wisata Banjarmasin yang berbasis budaya dan lingkungan.

Untuk menjaga keamanan dan kebersihan, pengunjung tidak diperbolehkan membuang sampah ke sungai. Setiap pengunjung juga diberi kantong sampah daur ulang dan diimbau menggunakan peralatan makan ramah lingkungan.

Pemerintah daerah menyediakan 10 perahu patroli yang memantau aktivitas sepanjang malam.

Warga sekitar pun merasakan dampak positif dari kehadiran pasar malam ini.

Banyak yang membuka penginapan, kafe pinggir sungai, hingga persewaan pakaian adat untuk foto di atas perahu.

Anak-anak muda juga terlibat sebagai relawan kebersihan dan pemandu wisata.

Menurut Wali Kota Banjarmasin, pasar malam ini adalah bentuk inovasi dari budaya sungai yang sudah mengakar.

“Kita buktikan bahwa sungai tak hanya hidup di pagi hari, tapi bisa jadi ruang budaya malam yang hangat dan inklusif,” ujarnya dalam peresmian.

Dengan perpaduan budaya lokal, visual malam yang memikat, dan kuliner tradisional yang otentik, Pasar Terapung Siring Malam kini menjadi bukti bahwa wisata air tak harus selalu siang karena di atas sungai yang tenang, malam pun bisa jadi panggung keajaiban.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *