liputanbangsa.com – Sebanyak 850 siswa beserta guru SMP Negeri 11 Semarang, mengikuti pelatihan pembuatan ekoenzim (eco enzyme) yang diolah dari sampah organik, di halaman sekolah, Jl Karangrejo Tengah Gajahmungkur Semarang, Jumat (13/10).
Dengan dibimbing oleh Relawan Dunia Eco Enzym Indonesia Wilayah Jawa Tengah dan LPPM Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dengan semangat para siswa yang dibagi menjadi beberapa kelompok, mengolah tumpukan sampah kulit buah untuk menjadi cairan yang berguna.
Di antara kelompok itu, ada yang bertugas memotong bermacam kulit buah, seperti nanas, mangga, pisang, hingga buah naga dan sayuran, menjadi potongan kecil-kecil. Kelompok yang lain, bertugas menakar air dan melarutkan gula di dalamnya.

Kepala SMP Negeri 11 Semarang Dwi Astuti Indriyanti, menyampaikan, kegiatan pelatihan ekoenzim itu, akan bermanfaat bagi anak-anak dan lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah.
“Kami mempunyai kegiatan untuk menghijaukan sekolah. Sehingga akan tercipta hijau sekolahku, sehat badanku, dan sekolahku bersih. Maka dari itu, itu kami angkat ekoenzim sebagai salah satu solusinya,” kata dia.
Menurut Dwi, berbagai manfaat akan dapat diperoleh dengan ekoenzim.
Di antaranya, yaitu untuk mengurangi limbah sampah yang ada di sekolah maupun di rumahnya bersama orang tua siswa.
“Limbah sampah yang ada itu, akan kita bedakan, antara organik dan nonorganik. Yang organik seperti kulit buah atau sayuran, kita olah menjadi ekoenzim yang bermanfaat untuk kehidupan,” terangnya.
Dwi mengatakan, tindak lanjut dari pembuatan ekoenzim tersebut, yaitu nantinya akan dijadikan pupuk cair untuk menyuburkan tanaman yang ada di sekolah.
Selain itu, kata dia, cairan ekoenzim bisa digunakan untuk membersihkan atau mengepel lantai kelas dan ruangan.
“Manfaatkan banyak sekali. Ekoenzim ini memungkinkan untuk penangkal radikal bebas, sehingga begitu jadi, nantinya bisa kita semprotkan di lingkungan SMPN 11,” katanya.
Sementara itu, Tim dari UPGRIS Ary Susatyo Nugroho, menjelaskan, ekoenzim adalah larutan organik kompleks yang merupakan hasil proses fermentasi sisa bahan organik.
“Berbagai bahan organik seperti kulit buah dan sisa sayuran akan difermentasi selama kurang lebih tiga bulan atau 90 hari. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,” katanya.
Menurut Ary, diantara manfaat tersebut, untuk keperluan rumah tangga, seperti sebagai pembersih saluran pipa, mencuci sayur dari pestisida, mengepel lantai, dan pelembut pakaian.
Selain itu, kata dia, ekoenzim dapat digunakan sebagai obat kumur mulut, pembersih wajah, meningkatkan kualitas udara, menyuburkan tanah, hingga campuran minuman hewan ternak.
Relawan Dunia Eco Enzym Jawa Tengah Suharto, menambahkan, untuk membuat ekoenzim caranya cukup mudah, yaitu, siapkan ember berkapasitas besar. Kemudian siapkan bahan organic, yaitu kulit buah, gula, dan air.
“Takarannya yaitu 1 kilo gram gula, 3 kilo gram bahan organik, dan 10 liter air bersih. Semuanya dicampur menjadi satu dan ditutup rapat. Diamkan selama tiga bulan, nanti hasilnya bisa dimanfaatkan,” terangnya.
Suharto menganjurkan, bahan organik cukup dari kulit buah saja bila menggunakan sayuran, hasilnya kurang bagus, sehingga sayuran fungsinya sebagai campuran saja dan komposisinya tidak boleh lebih dari 20 persen dari takaran.
(ar/lb)

