Sido Muncul Jadi Contoh Tranformasi Industri Jamu Nasional

 

UNGARAN – Keberhasilan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dalam mengembangkan jamu tradisional dengan pendekatan ilmiah dan standar farmasi mendapat apresiasi dari Komisi VII DPR-RI . Apresiasi itu disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik ke pabrik Sido Muncul di Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (23/1/).

Rombongan wakil rakyat dan Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Bawazir itu diterima Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat dan segenap karyawan di Agro Wisata, kompleks pabrik, Bergas, Kabupaten Semarang Sebelum tukar pikiran, rombangan yang berjumlah tujuh tim anggota Komisi VII itu melihat dari dekat proses pembuatan jamu seperti Tolak Angin dan KuKu Bima.

Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nur Santi menyatakan Sido Muncul menjadi contoh nyata transformasi industri jamu nasional. Menurutnya, upaya konsisten dalam riset, standarisasi, dan inovasi menjadi kunci meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap jamu.

“Kami lihat di sini bukan hanya pabrik besar, tapi keseriusan membangun jamu berbasis ilmu pengetahuan. Ini patut diapresiasi,” katanya.
Dia menambahkan, kunjungan lapangan memberikan pemahaman langsung mengenai proses produksi, teknologi, hingga tata kelola sumber daya manusia. Ia menilai penerapan teknologi modern di Sido Muncul tidak mengorbankan tenaga kerja.

“Kemajuan teknologi sering ditakuti memicu PHK, tapi di Sido Muncul justru berjalan seimbang. Ini poin penting bagi industri,” ujarnya.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, mengungkapkan perjalanan panjang perusahaan dalam membangun kepercayaan publik terhadap jamu. Ia menyebut, sejak 1985 Sido Muncul mulai menerapkan standarisasi dengan meniru sistem industri farmasi.

“Jamu selama ini identik dengan pengalaman empiris. Kami ingin jamu juga diakui secara ilmiah,” katanya.

Dia menjelaskan, Sido Muncul menghadapi banyak tantangan pada awal penerapan standarisasi, mulai dari keterbatasan modal hingga perbedaan pandangan internal. Namun, konsistensi terhadap mutu membuat kualitas produk meningkat dan berdampak pada pertumbuhan penjualan.

Pada 2003, Sido Muncul melakukan uji toksisitas dan uji klinis Tolak Angin melalui lembaga independen. Hasil uji membuktikan produk aman dikonsumsi tanpa menimbulkan gangguan pada organ tubuh.

“Pembuktian ilmiah ini yang kemudian kami sampaikan ke fakultas kedokteran, agar jamu dapat dipahami secara rasional oleh tenaga medis,” katanya.
Mewakili Gubernur Jateng, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Juli Emilia, menyampaikan industri jamu memiliki peran strategis dalam perekonomian daerah. Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar PDRB Jawa Tengah.

“Pada triwulan III 2025, industri pengolahan menyumbang sekitar 33,4 persen PDRB Jawa Tengah. Industri jamu adalah bagian penting dari capaian tersebut,” katanya.
Dia menambahkan, hingga November 2025 nilai ekspor jamu Jawa Tengah mencapai 24,6 juta dolar AS. Produk jamu diekspor ke berbagai negara, antara lain Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

“Ke depan, tantangan industri jamu adalah kualitas bahan baku, standarisasi internasional, serta inovasi dan pemasaran. Kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan,” katanya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *