Kudus, Liputanbangsa.com – Rintisan Desa Wisata Jurang berada di kecamatan Gebog, berjarak 9,1 km dari pusat kota dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit. Selain terkenal dengan wisata river tubing dan wisata kulinernya, juga terkenal dengan hasil kerajinan kreatif.
Ya, Muhammad Asrofi (43), seorang warga RT 2 RW 3 dukuh Teloyo Desa Jurang Kecamatan Gebog Kudus itu memproduksi hasil karya berbahan dari karung goni. Produk miliknya mempunyai branding nama ‘Mahagoni’.
Dikatakan Asrofi, Bahan dasar karung goni ini berasal dari karung packing tembakau yang didapatkan dari pabrik rokok di Kudus. Di tangannya, limbah karung goni ini dijadikan beragam produk unik dan bernilai jual.

“Karung goni ini didapatkan pengepul dari limbah pabrik yang berada di Kudus. Dari bekas packing tembakau, banyak yang terbuang, jadi kita manfaatkan untuk bikin produk berupa peci, topi, tas selempang, tas gendong, lukisan dan produk lainnya, semuanya berbahan dasar karung goni,” tutur Asrofi yang merintis usaha sejak 2017 lalu.
Untuk pembuatan peci misalnya, karung goni terlebih dahulu harus dicuci ataupun disikat sampai bersih, lalu dijemur sampai kering. Setelahnya, karung goni akan dikeringkan dan diberikan pola, untuk selanjutnya dijahit sesuai model.
“Untuk prosesnya kita jahit. Karung goni kita cuci dulu kita bersihkan, disikat. Lalu baru nanti dijahit sesuai dengan pola produk peci atau yang mau dibuat,” terangnya.
Sementara untuk lukisan goni, Asrofi mengaku melukisnya dengan menggunakan tangan. Karena permintaan semakin banyak, dirinya memutuskan membuat lukisan dengan sistem cetak.
“Untuk lukisan karung goni ini awalnya dulu kita lukis. Lalu karena banyak permintaan, kita gak mampu kalau lukis tangan, jadi sekarang dicetak,” ungkapnya.

Produk kerajinan karung goni milik Mahagoni ini dijual dengan harga mulai Rp 40 ribu Sampai Rp 100 ribu. Seperti Tas Rp50 ribuan, Topi Rp35 ribuan, Rompi Rp150 ribuan, lukisan bordirA berbahan nyaman sekitar Rp60-70 ribuan.
Peminat dari produk berbahan dasar karung goni ini tersebar di berbagai wilayah di Jawa, bahkan sudah sampai ke luar negeri.
“Bahkan untuk peci goni berlogo Nahdlatul Ulama ini sudah sampai ke Korea selatan. Untuk yang di Indonesia sudah ke Jakarta, Bogor dan Banten,” tuturnya.
Dalam sehari, dirinya mengaku bisa mmeproduksi 100 pcs peci. Sementara untuk kendala yang dihadapinya saat ini adalah di produksi, “Kendala saat ini di produksi, cari SDM nya yang agak susah, terlebih jika pesanan banyak,” pungkasnya. (Oke/lb)

