liputanbangsa.com – Sejumlah petani sayuran di wilayah Getasan Kabupaten Semarang mengaku rugi lantaran harga sayuran hasil tanamnya turun.
Sebab, dengan harga yang sekarang ini, tidak bisa untuk menutup modal merawat menanam hingga panen.
Alif Subroto (33) salah satu petani di wilayah Kopeng Getasan, mengatakan, harga sayuran yang yang ditanamnya seperti kol, selobor, tomat, hingga cabai rawit turun drastis.
Pihaknya tidak tahu pasti penyebab harga-harga bisa turun, yang jelas stok berlimpah dan permintaan turun.
“Secara hasil panen, sebenarnya para petani di musim ini bagus tanamannya subur-subur. Sayangnya, harga jual tidak bagus, sehingga para petani merugi,” katanya.

Alif menengarai, musim panen yang bersamaan dari petani di berbagai daerah ini menyebabkan stok berlimpah.
Sebab, bisa jadi bukan hanya dari Kopeng yang sedang panen, tetapi daerah lain seperti Magelang, Temanggung, Wonosobo, Boyolali, bahkan luar provinsi seperti Malang juga panen sayuran.
Alif menyebut, sekarang ini harga di tingkat petani, untuk kol dihargai Rp 800 perkilogram.
Padahal idealnya Rp 2.500 per kilogram. Komoditas lainnya seperti selobor yang biasanya Rp 2.000 per kilogram, kini hanya Rp 1.000 per kilogram.
Sedangkan tomat dan kentang juga turun harganya karena tanaman rusak karena cuaca mendung.
“Semua sayuran meski dalam kondisi kemarau seperti ini, sebenarnya tetap subur karena ini kemarau awal. Tanah masih basah.”
‘Bahkan sesekali hujan sehingga tidak kering sama sekali. Hanya, tomat dan kentang yang kurang bagus karena cuaca sering mendung mengakibatkan embun yang merusak tanaman itu,” katanya.
Alif mengakui kondisi ini menyebabkan petani menderita. Sebab biaya perawatan hingga panen tidak sebanding dengan harga jual hasil panen.
Terlebih pupuk kimia dan pestisida semakin mahal. Otomatis biaya perawatan tanaman menjadi tinggi.
“Mungkin pemerintah bisa memberi solusi, misalnya bisa menyalurkan saluran ini ke luar Jawa.”
”Kalau berkutat di Jawa, stok sayuran saat ini melimpah sehingga menyebabkan harga turun,” paparnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno ketika dikonfirmasi mengatakan, masalah harga jual hasil sayuran petani, seharusnya petani bisa mengira-ira sendiri.
Sebab penghasil sayuran bukan hanya Kabupaten Semarang. Tetapi daerah lain juga menghasilkan sayuran.
“Jika komoditi sama dan panen bersamaan di berbagai daerah tentu harga akan drop. Ini perlu diantisipasi petani,” katanya.
Mengenai distribusi pupuk, Edy mengatakan bahwa di Kabupaten Semarang lancar dan baik-baik saja. Hanya, pupuk bersubsidi sesuai aturan pemerintah pusat, jumlahnya terbatas.
“Mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian, terkait penggunaan pupuk bersubsidi, disebutkan, hanya sembilan komoditas yang boleh menggunakan pupuk bersubsidi itu.”
”Yakni padi, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, dan cabe. Kemudian tebu, kopi, dan kakau.”
”Sehingga daerah tertentu, sentra sayuran seperti Bandungan dan Getasan tidak mendapatkan alokasi subsidi,” katanya.
Edy berharap petani menggunakan pupuk organik dan tidak bergantung pada pupuk bersubsidi.
Potensi pupuk organik di Kabupaten Semarang, menurutnya besar. Yaitu kotoran hewan ternak yang difermentasi menjadi pupuk.
(ar/lb)

