Sapi Pemakan Sampah Diperjualbelikan, Masyarakat Diminta Waspada – Liputan Online Indonesia

YOGYAKARTA, liputanbangsa.com Hewan ternak, terutama sapi bertebaran di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, bahkan mengonsumsi sisa-sisa makanan di tempat tersebut.

Hal ini mengkhawatirkan karena sampah makanan mengandung bakteri dan kotoran lainnya sehingga daging sapi yang biasa makan sampah perlu diperiksa.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan DIY, Siti Nurhayah Isfandiari mengungkapkan yang harus diwaspadai adalah bahaya sapi yang mengonsumsi makanan sampah yang ada di TPST Piyungan.

“Karena makanan yang tidak sehat bisa jadi menimbulkan risiko pada sapi, yang selanjutnya juga berdampak pada produksi berupa daging atau lainnya yang dimakan manusia.”

“Sebaiknya akan lebih pasti kalau daging sapi dari tempat sampah diperiksa di laboratorium sehingga terlihat kandungan apa saja yang ada di dalamnya,” papar Siti.

Ia menjelaskan kandungan daging sapi tergantung dari keberadaan cemaran yang ada.

Cemarannya bisa berupa mikrobiologi atau kimia logam berat.

Kalau cemarannya berupa mikrobiologi, bisa menimbulkan risiko pada pencernaan manusia sedangkan kimia logam berat akan menimbulkan akumulasi logam berat jaringan.

Menurut Siti cara pencegahan pengelolaan daging sapi yang berasal dari TPST Piyungan dengan merebusnya di suhu 100 derajat celsius untuk membunuh mikrobakteri.

Beda halnya kalau terdapat kandungan kimia logam berat melebihi batas baku mutu, ia menyarankan tidak dikonsumsi.

Salah satu pemilik sapi yang biasa makan sampah di Piyungan, Sardiwarto mengatakan selama ini tidak ada masalah dengan hewan piaraannya.

Ia memiliki tiga sapi yang setiap hari mencari makan di TPST Piyungan.

Berdasarkan pengalamannya, sapi yang biasa makan di sana aman dari penyakit dan juga layak untuk konsumsi.

Para pemilik pun memperjualbelikan sapinya dan tak khawatir adanya potensi virus atau penyakit lainnya.

Mereka merasa baik-baik saja selama mengonsumsi daging tersebut.

Alhamdulillah semua sapi di sini sehat-sehat saja dan juga diperjualbelikan. Tidak pernah ada masalah meskipun makan sampah,” tutur Sardiwarto.

(ar/lb)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *