LiputanBangsa.com – Pernyataan yang menganggap generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial, apatis terhadap dunia politik perlu ditinjau ulang.
Berdasarkan survei terbaru, partisipasi pemilih muda dalam Pemilu 2024 menunjukkan angka yang cukup signifikan.
Dari total 204.807.222 pemilih yang terdaftar, sekitar 55% atau 113.622.550 pemilih merupakan kaum muda, yang terdiri dari Gen Z (lahir antara 1997 hingga 2012) dan Gen Y atau Milenial (lahir antara 1981 hingga 1996).
Angka ini menggambarkan peran penting suara mereka dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Fakta menariknya, meski banyak isu yang mengiringi, tingkat partisipasi pemilih muda pada Pilpres 2024 tercatat mencapai 81,78%, hampir setara dengan Pilpres 2019 yang mencatatkan 81,9%, dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Pilpres 2014 yang hanya mencapai 69,6%.
Ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah pemilih muda meningkat, tingkat partisipasi mereka tetap tinggi.
Hasil survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) terhadap anak muda Indonesia juga memperlihatkan bahwa 59,8% di antaranya menunjukkan minat terhadap politik.
Meskipun ada 35,7% yang mengaku tidak tertarik, serta 4,5% yang sangat tidak tertarik, data ini membuktikan bahwa persepsi tentang ketidakpedulian kaum muda terhadap politik tidak sepenuhnya akurat.
Keterlibatan nyata kaum muda juga tercermin dari banyaknya mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu, mulai dari menjadi anggota panitia hingga pengawas dan pelaksana Pemilu di berbagai wilayah.

Ini membuktikan bahwa kaum muda tidak hanya peduli, tetapi juga berkontribusi secara langsung dalam sistem demokrasi.
Sebagai seseorang yang berperan di dunia politik, penulis merasa perlu untuk terus meningkatkan minat dan keterlibatan kaum muda melalui pendidikan politik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Model pendidikan politik yang efektif harus mempertimbangkan perkembangan teknologi komunikasi dan dinamika kehidupan kaum muda.
Oleh karena itu, pendidikan politik di lembaga pendidikan haruslah relevan dan up-to-date agar tidak terkesan usang.
Lebih dari sekadar memberikan literasi, pendidikan politik juga harus melibatkan kaum muda dalam diskusi, debat, dan interaksi langsung dengan pelaku politik.
Hal ini penting untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai politik dan memastikan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena politik kini memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan, penting bagi kaum muda untuk menyadari bahwa masa depan bangsa ada di tangan mereka.
Oleh karena itu, para generasi senior memiliki tanggung jawab untuk mendorong kaum muda agar memiliki kesadaran politik yang tinggi dan relevan dengan perkembangan zaman, demi tercapainya cita-cita bersama bangsa.
(ar/lb)

