liputanbangsa.com – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Mohammad Saleh, menghadiri ujian terbuka disertasi rekan dekatnya, Agung Margono, di Ruang Sidang Utama Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, Rabu (25/6/2025).
Agung Margono ialah mantan Anggota DPRD Jateng yang saat ini menyelesaikan studi Doktor Ilmu Lingkungan Undip Semarang. Sejumlah tokoh penting juga hadir dalam ujian disertasi tersebut, salah satunya Sekretaris Daerah Jateng Soemarno.
Saleh mengapresiasi pemikiran Agung Margono yang mengkaji secara mendalam tata kelola
Waduk Jatibarang, infrastruktur strategis di Kota Semarang yang memiliki peran vital dalam pengendalian banjir, penyediaan air baku, hingga potensi ekowisata.
“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada sahabat saya, Agung Margono, atas pencapaian akademik dan kontribusi pemikirannya yang luar biasa,” kata dia.
Disertasi tersebut berjudul “Model Pengelolaan Waduk Jatibarang di Kota Semarang” menyoroti perlunya tata kelola kolaboratif.
Melalui pendekatan interdisipliner yang menggabungkan aspek lingkungan, kebijakan publik, dan partisipasi masyarakat, riset ilmiah Agung menyoroti pentingnya pengelolaan waduk yang tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga sosial dan ekologis.

Saleh menilai bahwa pemikiran Agung dalam disertasinya memiliki relevansi tinggi terhadap kondisi aktual pengelolaan sumber daya air di Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang yang kerap menghadapi persoalan banjir dan degradasi lingkungan.
“Disertasi Mas Agung tentang tata kelola Waduk Jatibarang bukan hanya menjadi capaian pribadi, tetapi juga menjadi referensi penting bagi pengambilan kebijakan publik yang lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan,” ungkap dia.
Sebagai mantan Anggota DPRD Jawa Tengah, Agung Margono dinilai memiliki kedalaman pengalaman dalam memahami dinamika kebijakan dan tata kelola sumber daya alam di daerah.
Kini, melalui pendekatan akademik yang ia tempuh, kontribusinya dinilai semakin strategis dalam menjembatani antara dunia ilmu pengetahuan dan praktik pemerintahan.
Mohammad Saleh berharap ke depan semakin banyak kolaborasi antara para akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
“Kami di DPRD Jawa Tengah tentu membuka ruang bagi pemikiran-pemikiran kritis dan solutif seperti ini,” ucap Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah tersebut.
“Ke depan, saya berharap hasil penelitian seperti yang dilakukan Mas Agung ini dapat menjadi masukan konkret dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif dan berorientasi jangka panjang,” imbuh Saleh.
Sementara dalam ujian ini, Agung Margono berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tujuh penguji. Dalam risetnya berjudul “Model Pengelolaan Waduk Jatibarang di Kota Semarang”, Agung menyoroti perlunya tata kelola kolaboratif.
Model ini lahir dari kegelisahan Agung terhadap laju sedimentasi dan minimnya kolaborasi kelembagaan dalam mengelola waduk sehingga pengelolaan perlu dilakukan pemerintah pusat dan daerah, Perum Jasa Tirta I, PDAM, dan kelompok masyarakat seperti Pokdarwis dan petani konservasi.
“Waduk bukan hanya urusan teknis, tapi juga sosial dan kelembagaan. Kita perlu satu model yang menjembatani semuanya,” papar Agung dalam presentasinya yang berlangsung selama 15 menit di hadapan tujuh penguji.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menekankan bahwa Waduk Jatibarang berisiko kehilangan fungsinya dalam 21 tahun ke depan jika tidak dilakukan intervensi serius.
Melalui disertasinya, Agung merekomendasikan pembentukan Forum Komunitas Peduli Waduk (FKPW) sebagai ruang koordinasi legal yang dilengkapi digitalisasi pemantauan air.
Dia menegaskan, ilmu dan pengalaman kebijakan harus berjalan beriringan.
“Saya ingin mendorong bahwa ilmu bisa menyatu dengan advokasi kebijakan dan kerja nyata di masyarakat,” pungkasnya.
(lb/lb)

