Mohammad Saleh : Green Industry Sebagai Solusi Ekonomi dan Energi Terbaik

liputanbangsa.com Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh, menekankan pengembangan green industry atau industri hijau sebagai solusi ekonomi ramah lingkungan dan transisi energi di tengah masifnya pembangunan yang merusak lingkungan.

Dia memaparkan hal tersebut dalam kegiatan webinar bertajuk “Tantangan dan Peluang Kebijakan Green Industry” dalam rangka Dies Natalis ke-10 Program Studi Magister Energi SPS Universitas Diponegoro Semarang, belum lama ini.

Dalam paparannya, Mohammad Saleh menjelaskan bahwa green industry bukan hanya urusan lingkungan, melainkan kunci menuju efisiensi energi, ketahanan energi nasional, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

“Dengan strategi dekarbonisasi, industri hijau diproyeksikan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29–41 persen hingga tahun 2030,” kata dia.

Transisi ini juga menjanjikan penciptaan 400.000 green jobs, peningkatan daya saing global, serta peluang investasi melalui skema green financing seperti green bond, tax holiday, dan blended finance.

Namun sejauh ini, implementasi green industry di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan besar.

Dimulai dari regulasi masih tumpang tindih antar sektor dan belum merata di daerah serta modal awal tinggi sehingga sulit diakses oleh pelaku UMKM.

Di sisi lain teknologi bersih belum menyebar secara merata dan SDM lokal belum memiliki literasi dan keterampilan hijau yang memadai.

Tantangan lain adalah pasar lokal masih price-sensitive dan belum menghargai produk hijau.

Meski begitu, menurut Saleh, daerah memiliki potensi besar yang bisa menjadi lokomotif industri hijau. Apalagi hal ini didukung dengan keberadaan koperasi, kelompok tani, dan UMKM.

“Banyak kabupaten/kota yang memiliki sumber daya biomassa dan energi surya, serta kekuatan sosial seperti koperasi, kelompok tani, dan UMKM. Ditambah lagi, otonomi daerah memungkinkan Pemda membuat regulasi dan insentif yang pro-lingkungan,” kata dia.

Dengan kekuatan sosial dan demonstratif tinggi, daerah bisa menjadi percontohan transisi energi. Salah satu contohnya adalah proyek di Gresik (JIIPE) dan pabrik Danone-AQUA di Klaten dan Sukabumi yang telah menerapkan teknologi hijau.

Dia memaparkan data yang menunjukkan, 99 persen industri di Indonesia ialah industri mikro dan kecil.

Namun justru masih menggunakan teknologi usang, boros energi, dan tidak memiliki manajemen limbah. Hal ini bisa menyumbang emisi CO₂ sebesar 216 Mt per tahun.

Untuk itu, Saleh memaparkan strategi transformasi industri mikro sebagai solusi revolusi hijau.

Salah satunya ialah klasterisasi industri mikro dengan membentuk komunitas produksi berbasis lokal dengan energi bersih kolektif seperti PLTS atau biogas.

Selain itu substitusi teknologi dengan mengganti kompor LPG dengan biomassa, manajeman limbah lokal, pembiayaan dan insentif hijau melalui koperasi energi, CSR BUMN, hingga green entrepreneurship.

Jika strategi ini diterapkan pada 1.000 UMKM, Saleh optimis bahwa dampaknya sangat signifikan.

Hal ini bisa mereduksi emisi CO₂ hingga 5.000 ton/tahun, penciptaan 3.000 lapangan kerja hijau, energi bersih terpasang hingga 5 MW, efisiensi biaya energi 20–30 persen, dan desa menjadi mandiri secara energi dan bebas limbah.

Webinar dalam rangka Dies Natalis ke-10 Program Studi Magister Energi SPS Universitas Diponegoro Semarang
Webinar dalam rangka Dies Natalis ke-10 Program Studi Magister Energi SPS Universitas Diponegoro Semarang.(lb/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *