Cara Mengajarkan Anak soal Pendidikan Seks Sejak Dini – Liputan Online Indonesia

liputanbangsa.com Berbicara tentang seks kepada anak remaja merupakan hal terpenting yang dapat dilakukan orang tua.

Seringkali orang tua merasa tidak mampu untuk melakukan tugas itu.

Terlebih lagi, kebutuhan percakapan tentang seks serta lanskap kesehatan seksual menjadi lebih jelas seiring perkembangan remaja.

Salah satu penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa pubertas pada anak perempuan terjadi lebih awal, yaitu usia 9 tahun, sedangkan pada penelitian sebelumnya, anak laki-laki memasuki masa pubertas usia 10 tahun.

Dari pernyataan di atas, peran orang tua dibutuhkan untuk mendampingi perkembangan baik anak laki-laki maupun perempuan untuk memberi pemahaman tentang hal-hal yang perlu diperhatikan serta menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Berikut adalah beberapa tips orang tua untuk berbicara dengan anak remaja tentang seks.

1. Mulailah saat Anak Masih Kecil

Langkah awal berbicara tentang seks adalah pengenalan anatomi tubuh dengan nama yang tepat.

Pada saat anak masih kecil, mereka perlu memahami nama-nama biologis tubuh. Biasakan mengatakan ‘penis’, ‘vagina’, ‘uretra’, ‘labia’, dan lainnya dengan jelas dan semestinya.

Berikan pengetahuan bedanya laki-laki dan perempuan. Bicarakan tentang batasan diri, area tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain dan ajarkan tentang kemampuan untuk meminta izin dan menolak.

2. Pertahankan Percakapan

Obrolan tentang seks bukan obrolan ‘satu dan selesai’, melainkan diskusi berkelanjutan yang tumbuh seiring dengan kedewasaan anak secara fisik maupun emosional.

Sebagai anak yang mendekati pubertas, tambahkan diskusi tentang perubahan yang dialami di masa pubertas untuk membantu mereka dalam memahami bagaimana tubuh mereka mempersiapkan masa remaja dan dewasa.

Perubahan yang dimaksud seperti menstruasi, bulu tubuh, dan ciri seks sekunder lainnya.

Terbuka untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dan terus terang jika tidak mengetahuinya dengan berusaha mencari tau jawabannya.

3. Jujurlah pada Risiko

Remaja seringkali haus akan informasi yang akurat dan jujur tentang seks.

Bagaimanapun, orang tua harus meningkatkan kemandirian remaja mereka dengan cara yang sesuai usia. Hal ini menjadi pekerjaan yang paling menakutkan bagi orang tua.

Termasuk juga, peningkatan risiko melihat bagaimana anak muda saat ini yang dekat dengan media sosial.

Manfaatkan pintu terbuka ini kepada anak remaja.

4. Bicara dengan Anak Remaja Anda

Ini bagian dari perbincangan yang berkelanjutan. Mereka perlu tau bagaimana melindungi dan merawat diri mereka sendiri seperti kesehatan seksual.

Hal ini juga berkaitan dengan adanya isu pelecehan atau kekerasan seksual di mana semua orang bisa menjadi korban atau bahkan pelaku.

Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan mengedukasi anak remaja untuk memiliki rasa hormat kepada orang lain dan tidak mengganggu orang lain apalagi sampai merugikan orang lain.

Bicarakan juga tentang bentuk-bentuk, faktor dan dampak dari kekerasan seksual.

Catatan: Orang tua harus berbicara dengan anak remaja tentang alkohol dan narkoba. Alkohol dapat menjadi faktor terjadinya kekerasan seksual.

Baik korban maupun pelaku dapat pingsan karena alkohol yang mampu membuat mereka berperilaku di luar karakter atau kesadaran.

5. Selalu Ada untuk Anak Remaja Anda

Terus hadir untuk anak remaja anda saat mereka menjadi lebih mandiri dan tetap berikan informasi yang mereka butuhkan untuk transisi yang sehat menuju kedewasaan.

Pertahankan jalur komunikasi tetap terbuka, dengarkan apa yang mereka katakan dan berikan bimbingan atau nasihat bila diperlukan.

Orang tua dapat memberikan nilai dan harapan tentang hubungan romantis, pembentukan keluarga, dan keamanan karena nilai kehidupan remaja cenderung mencerminkan nilai orang tua mereka.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *