Desa Japan di Kudus Punya Tradisi, Potensi dan Paket Menarik untuk Wisatawan

Wisataview dari makam mbah surogonjo ngipik (Dokumentasi Pokdarwis Paridjotho Desa Japan)

Kudus, Liputanbangsa.com – Desa Wisata Japan berlokasi di Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Jawa tengah. Lokasi Desa tersebut tidak jauh dari lokasi makam Sunan Muria (salah satu dari Wali Songo) yang terkenal di Pulau Jawa.

Salah satu desa tertinggi di Kota Kretek itu berjarak 20 kilometer dari Pusat Kota, Alun-alun Simpang Tujuh atau bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 40 menit.

Ketua kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Paridjotho di Desa Japan, Didik Sedyanto melalui wakilnya Restu mengatakan, Seperti pada umumnya pedesaan di Muria, Japan mempunyai banyak hal unik, baik itu dari kontur geografis pegunungan dengan iklim sejuk, kehidupan sosial budaya, hasil buminya hingga dari sisi sejarah dan religi.

Wisata
Trip Paket Wisata Edukasi Kopi di Desa Japan (Dokumentasi Pokdarwis Paridjotho Desa Japan)

Pemandangan hijau Japan terbentuk dari ratusan hektar hutan tropis dengan keasrian yang masih terjaga di lingkaran luar perkampungan sampai dengan puncak-puncak pegunungan.

Ada beragam tradisi, potensi dan paket wisata menarik yang ditawarkan oleh para wisatawan,

“Untuk tradisi yang rutin digelar ada Salin Luwur Syech Syadzali Rejenu (salah satu ulama besar dari Timur untuk menyebarluaskan agama Islam di sekitar lereng gunung muria), Salin Luwur makam Mbah Suro gonjo (orang pertama kali tinggal di Japan), lalu ada acara Apitan yang dibarengkan dengan sedekah bumi,” ujarnya Kepada media ini.

Selain itu, lanjut Restu, Desa Japan mempunyai beragam potensi, dari potensi wisata alam yang menyajikan panorama pemandangan gunung, wisata religi serta potensi hasil buminya,

“Japan menawarkan pemandangan hijau pegunungan, lembah, sungai jernih dengan air terjunnya, yang secara visual merata hampir di setiap titik. Ada air terjun Monthel, Geger, kedhung Paso, yang bersumber dari Mata Air Tiga Rasa di Rejenu.

Salah satu tempat yang juga menjadi destinasi wisata religi dengan adanya Makam Syech Hasan Sadzali, salah satu tokoh penyebar Islam di Muria. Mendampingi destinasi religi yang lain seperti petilasan Mbah Surogonjo dan juga Nyai Wandansari. Menjadi satu paket kunjungan tersendiri dengan Makam Sunan Muria yang berjarak hanya 1.5 Km dan bisa ditempuh kurang dari 10 menit. Rejenu juga menjadi pos pendakian menuju Puncak Argopiloso dan Argo Jembangan, salah satu puncak tertinggi di pegunungan Muria.

Dibawahnya hamparan perkebunan kopi, yang hingga saat ini terkenal dengan Kopi Muria, dan sudah ada sejak jaman Belanda. Menjadi salah satu produk pokok penghidupan warga, tak heran jika kita bisa menemukan hampir di setiap rumah selalu ada pengolahan biji kopi.

Dari sekitar 317 Ha luas Japan, hampir sepertiganya adalah area perkebunan, dan didominasi oleh kopi. Menghasilkan lebih dari 200 ton per musim, disusul dengan hasil kebun lainnya seperti Pamelo, Alpukat, Cengkeh, dan lain-lain. Area terluas adalah di seputaran Guyangan Camping Ground hingga Mlalu,” jelas Restu.

Desa Wisata Japan, masih kata Restu, juga menawarkan paket wisata menarik, disana terdapat beberapa homestay, yang hampir semua menyuguhkan pemandangan indah dengan keseharian pemilik rumah dengan nuansa sederhana nan ramah.

“Pengunjung bisa menginap sembari menikmati kegiatan pemilik rumah dalam bertani dan mengolah kopi, membuat kerajinan, maupun sekedar berpetualang menikmati kuliner khas Japan.

Selain Jeruk Pamelo yang ada di setiap rumah dan bisa dinikmati kapan saja, Restu menyebut, olahan kuliner Japan juga tergolong unik. Pecel Pakis, sambel Pacar, Kulup Nayadhita, dan lain-lain.

Tak lupa juga beberapa kedai kopi yang selain menawarkan olahan kopi Muria, pengunjung juga bisa mengikuti aneka kegiatan dari mulai memetik dan menjemur hingga menjadi green bean, sampai dengan memasak kopi hingga sampai bisa dinikmati,” terangnya.

Ada lagi salah satu objek wisata edukasi di Desa Wisata Japan adalah kerajinan Biola Bambu. Di Desa Wisata Japan. Biola Bambu ini merupakan salah satu kerajinan unik dan khas, karena bahan baku yang digunakan adalah bambu. Bambu yang digunakan adalah jenis bambu petung, jenis bambu besar yang cukup melimpah di wilayah japan.

Wisata
View guyangan camping ground (Dokumentasi Pokdarwis Paridjotho Desa Japan)

Ngatmin atau biasa dipanggil mbah min, merupakan salah satu pengrajin kayu, yang menyulap bambu menjadi alat musik yang unik. Ide awal pembuatan biola bambu ini, berawal dari pekerjaan untuk membuat biola kayu di Bogor pada tahun 2009.

Terinspirasi dari hal tersebut, pada tahun 2013 ia berkinginan untuk membuat biola dari bahan dasrbambu,seperti halnya alat musik suling bambu. Selain itu suara yang dihasilkan dari biola bambu ini mempunyai bunyi yang lebih nyaring dari biola biasa.

Diketahui, Desa Japan sendiri mempunyai empat dukuh, diantaranya Dukuh Japan lor, Japan wetan, Ceglik dan Bengkang.

Desa Wisata Japan secara resmi terbentuk dengan diterimanya SK dari Bupati Kudus HM. Hartopo pada Launching Desa Wisata Japan di Balai Desa Japan.

Restu menyampaikan, wisatawan yang ingin mengetahui lebih tentang Desa Japan, bisa mengakses kanal websitenya di desawisatajapan.com atau di akun instagramnya desawisata_japan. (Oke/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *