liputanbangsa.com – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) buka suara usai disebut kampungan oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.
Agus mengatakan dirinya tidak ambil pusing terkait sebutan kampungan yang dilontarkan Luhut.
Ia mengaku pernyataannya soal adanya upaya penjegalan terhadap Anies Baswedan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bentuk penyampaian aspirasi dari masyarakat.
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) buka suara usai disebut kampungan oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.
Agus mengatakan dirinya tidak ambil pusing terkait sebutan kampungan yang dilontarkan Luhut.
Ia mengaku pernyataannya soal adanya upaya penjegalan terhadap Anies Baswedan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai bentuk penyampaian aspirasi dari masyarakat.
Ia juga berharap berbagai pihak dapat membiarkan proses pemilihan presiden dapat berjalan sebagaimana mestinya sebagai bentuk proses pendewasaan politik Indonesia.
“Kalau politik apalagi pemilu itu diatur, yang boleh maju hanya A, B, kemudian yang tidak diinginkan oleh penguasa kalau bisa jangan terjadi, rasanya enggak sehat,” jelasnya.
Lebih lanjut, AHY menilai pernyataan Luhut itu juga sebagai bentuk kebebasan berpendapat.
Karenanya, ia berharap pemerintah dapat bersikap terbuka terhadap masukan ataupun kritik yang disampaikan oleh siapa saja.
“Saya menghormati kalau beliau menyampaikan itu, tetapi kami punya hak untuk menyampaikan pandangan dan juga apa yang kami rasakan,” tuturnya.
Sebelumnya, Luhut menyebut AHY kampungan karena menuding Jokowi berupaya menjegal pencalonan presiden Anies Baswedan.
Luhut juga menegaskan bahwa Jokowi tak mungkin berupaya menjegal salah satu bakal calon presiden untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2024.
“Presiden itu bukan seperti yang dibilang Agus Yudhoyono tadi. Enggak betul sama sekali itu, saya jamin kalau itu. Saya kan perwira, kalau itu saya jamin enggak ada. Jadi enggak usah bikin bicara-bicara, kampungan itu menurut saya,” kata Luhut saat itu.
Luhut pun mengaku heran kenapa Jokowi dikaitkan dengan upaya Moeldoko mengambil alih kedaulatan Demokrat.
“Beliau itu tidak pernah mau mencampuri masalah hukum atau menjegal orang tadi seperti dibilang si Agus tadi, mau dijegal partainya. Enggak ada itu sama sekali,” ujar Luhut.
(ar/lb)

