liputanbangsa.com – Indonesia diprediksi akan mengalami musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung dari bulan Juni hingga Agustus. Hal ini diungkapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Kebencanaan BNBP Abdul Muhari mengungkapkan saat ini bencana hidrometeorologi kering sudah mendominasi sejumlah wilayah meski jumlahnya masih fluktuatif.
Tercatat hingga Senin (5/6), Indonesia telah dilanda sekitar 1.300 kejadian bencana dan titik panas atau hotspot muncul dari daerah-daerah yang terdapat kejadian paling banyak di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
Namun, Abdul menjelaskan musim kemarau pada tahun ini berbeda sebab dalam tiga tahun terakhir Indonesia pada periode basah yang dipengaruhi La Nina pembawa awan hujan. Artinya, rata-rata di setiap bulan Indonesia tidak pernah benar-benar mengalami kekeringan atau suhu yang relatif tinggi.
Kebakaran hutan pun relatif cepat padam, karena faktor alam mendukung untuk percepatan pemadaman api.
“Kalau di kita lihat di sini dalam lima bulan berjalan tahun 2033 itu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah terjadi 125 kali. Artinya, seperti pada awal tahun sudah disampaikan oleh BMKG, diulang kembali berkali-kali oleh bahkan bapak presiden sendiri, bahwa mulai 2023 ini kita akan ada pada periode kering,” ujar Abdul.
BACA JUGA:
BMKG Sebut 28 Persen Daerah Indonesia Sudah Memasuki Musim Kemarau – Liputan Online Indonesia
Meski demikian, wilayah-wilayah tersebut bisa mengalami cuaca yang dialami musim lain. Misalnya, wilayah satu musim yang mengalami musim kemarau bisa saja mengalami hujan terus menerus seperti mengalami musim hujan.
“Betul. Misal Bogor, walaupun pada bulan Juli yg sebagian besar wilayah Indonesia kemarau, tapi Bogor tetap hujan,” tutur Urip.
Walau demikian, wilayah satu musim juga masih tetap terpengaruh anomali iklim global seperti El Nino atau La Nina yang berdampak pada dinamika cuaca di wilayah tersebut. Dinamika cuacanya sendiri, kata dia, “dapat bervariasi tergantung tempat dan waktunya.” (heru/lb)

