Kopi Liberika Mulai Naik Daun, Geser Posisi Robusta dan Arabica? – Liputan Online Indonesia

liputanbangsa.comKementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung sektor industri kecil menengah (IKM) di Kalimantan Selatan.

Inisiasi program Dana Kemitraan Peningkatan Telnologi Industri (DAPATI) diberikan salah satunya IKM eFGeeN Kopi Hirang.

Perlu diketahui, kopi hirang ini menggunakan kopi jenis liberika hasil budidaya petani di Tanah Laut dengan rasa unik.

Seperti apa uniknya kopi liberika dan mampukah menggeser para pecinta kopi Robusta ataupun Arabika?

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Andi Rizaldi menyebut, IKM eFGeeN Kopi Hirang ini dirintis sejak tahun 2017 di Kelurahan Komet Kota Banjarbaru.

Tergolong sebagai industri kecil dan merupakan perusahaan perseorangan, keunikan dan performa bisnis IKM ini menjadikannya terpilih untuk program DAPATI kali ini.

“Kopi liberika memang tidak sepopuler kopi arabika dan robusta. Namun, dengan aroma khas buah seperti buah nangka dan rasanya yang tergolong unik, kopi ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi para penikmat kopi untuk mendapatkan pengalaman dan sensasi baru dalam meminum kopi,” imbuh Andi seperti dilansir dari kemenperin.go.id.

Menurut Andi, program DAPATI ini dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh IKM dengan target untuk dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing, dan kemandirian industri.

Diharapkan pula, melalui program DAPATI, pelaku IKM yang terlibat akan semakin besar kontribusinya dalam peningkatan perekonomian nasional.

”Dengan produk yang berkualitas, maka nilai tambah produk akan semakin tinggi yang berujung pada peningkatan daya saing industri dan produknya,” tuturnya.

Pemilik IKM eFGeeN Kopi Hirang, Yossie Simanjuntak menyampaikan, salah satu permasalahan yang dihadapi pada awal sebelum mendapatkan pendampingan melalui program DAPATI adalah tempat penyimpanan bubuk kopi yang disimpan dalam kaleng bekas kue kering.

Dengan pola seperti itu, sangat rawan terkontaminasi partikel-partikel debu, rambut dan partikel lainnya pada saat membuka penutup kaleng untuk pengambilan bubuk kopi.

Selain itu, belum dilakukan pengujian kualitas bubuk kopi berdasarkan standar SNI dan belum adanya penerapan GMP/CPPOB produk dan quality kontrol produk.

Melihat kondisi tersebut, tim Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Banjarbaru melalui program DAPATI tahun 2023 telah melakukan konsultansi dan pendampingan kepada IKM eFGeeN.

Pendampingan ini termasuk konsultansi rancang bangun alat penyimpanan bubuk kopi hirang liberika yang dilengkapi dengan sistem kontrol suhu dan kelembaban.

Alat penyimpanan yang dirancang dan disediakan oleh BSPJI Banjarbaru tersebut dapat meningkatkan efisiensi waktu pengemasan sebesar 52 persen atau dalam waktu 2 jam.

Yang hanya biasanya rata-rata dapat mengemas 50 pouch (10 kg) dapat meningkat menjadi 76 pouch (15,2 kg).

Selain itu, telah dilakukan pengujian kualitas bubuk kopi berdasarkan SNI dan umur simpan produk pada alat tersebut dimana semua parameter uji telah memenuhi syarat mutu SNI bubuk kopi.

Bahkan, telah diberikan pendampingan dan pelatihan uji sensoris serta bimbingan teknis CPPOB untuk UMKM sehingga meningkatkan kompetensi tim IKM eFGeeN dalam menerapkan quality control terhadap bahan baku dan produk bubuk kopi hirang Liberika.

Model kegiatan konsultansi dan pendampingan yang dilakukan oleh BSPJI Banjarbaru kepada IKM Kopi Hirang Efgeen ini merupakan salah satu model kerja sama yang hendak dikembangkan oleh BSPJI Banjarbaru selaku perwakilan Kemenperin.

Nantinya akan diperluas implementasinya di wilayah Kalsel dan sekitarnya.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *