Mengenal Desa Wisata Kaliputu Kudus dan Sosok Sosrokartono

WisataKirab Jenang Tebokan yang digelar warga Kaliputu Kudus setiap 1 Muharram

Kudus, Liputanbangsa.com – Berkunjung ke Kabupaten Kudus tentu tak lengkap rasanya jika tak mencicipi jenang. Makanan serupa dodol itu memang menjadi ciri khas kuliner bagi kabupaten di Jawa Tengah ini.

Rupanya makanan yang memiliki ciri khas manis legit itu banyak dibuat oleh warga Desa Kaliputu, Kecamatan Kota. Lokasinya tak jauh dari jantung kota. Yakni hanya sekitar lima menit dari alun-alun Simpang tujuh Kudus.

Wisata
Kemeriahan Kirab Tebokan juga diikuti riuh kegembiraan anak-anak (oke/lb)

Di sepanjang jalan Sosrokartono itu, banyak berdiri toko jenang. Memang, sebagian besar warga Desa Kaliputu merupakan produsen jenang. Setidaknya ada puluhan pengusaha jenang terlahir di sana.

Desa Kaliputu merupakan desa wisata kategori rintisan dengan sentra Jenang sebagai destinasi wisata unggulannya. Disamping sentra Jenang, di desa “Kaliputu” terdapat Pesarean Sedomoekti, makam Para Bupati Trah Tjondronegoro dan juga Makam Sosrokartono.

Ada kisah yang menjadikan desa tersebut menjadi sentra kuliner jenang yang menjadi makanan khas Kudus.

Wisata
Barisan Pelajar juga turut memberikan kontribusi dalam Kirab Tebokan (oke/lb)

Kepala Desa Kaliputu, Widiyo Pramono menjelaskan, Pada zaman dahulu ada seorang cucu dari cikal bakal Desa Kaliputu. Selain itu ada juga sosok Mbah Dipok Sopoyono.

Dalam cerita sang cucu tersebut dikabarkan tenggelam di sungai Kali Gelis. Setelah ditemukannya sang cucu tadi, dia dinyatakan meninggal. Akan tetapi di waktu yang bersamaan ada dua orang wali yakni, Sunan Kudus dan Raden Syaridin. Sunan Kudus menyatakan bahwa anak itu telah meninggal dunia, berbeda dengan Raden Syaridin yang menganggap dia masih hidup.

“Beberapa kali berdebat, akhirnya Raden Syaridin menyarankan untuk membuatkan Bubur Gamping untuk si cucu. Bubur Gamping adalah olahan makanan berbahan dasar beras dengan sedikit tambahan garam. Setelah diberi makan bubur tersebut, cucu Mbah Depok Sopoyono terbangun,” cerita Widiyo, kepada wartawan, Rabu (19/7/2023).

Dengan adanya peristiwa ini, Sunan Kudus berkata “Rejaning Jaman Wong Kaliputu iki Pangukojiwane Soko Bubur” dan hal ini diyakini hingga sekarang yang menjadikan jenang sebagai mata pencaharian warga Desa Kaliputu.

Wisata
Kirab Jenang Tebokan yang digelar warga Kaliputu Kudus setiap 1 Muharram

Usaha bubur di Desa Kaliputu bermulai sekitar tahun 1800 akhir, dimulai adanya seorang pengusaha bubur bernama Mbah Haji Abdullah, beliau berjualan bubur di Pasar Kliwon, dalam berjualan sudah memberi nama merk dan sudah dibungkus walaupun menggunakan daun pisang, inilah yang menjadi keunikan jenang kala itu.

Sejarah Tebokan Jenang

Widyo menceritakan, dulunya tradisi tebokan hanya digelar di masing-masing masjid setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro.

Lalu warga yang mayoritas adalah pengusaha jenang berinisiatif menggelar kirab tebokan jenang lebih meriah.

“Tebokan dulunya dari pengusaha jenang itu istilahnya syukuran di masjid, akhirnya kita angkat ke pariwisata lebih nasional lagi dan dibantu dengan Dinas Pariwisata menjadi tradisi tahunan,” kata Widiyo.

“Tradisi tebokan, biar jenang dari Kaliputu tambah dikenal dari kota luar kota maupun dari negara lain bisa mengikuti jenang,” sambungnya.

Dengan gunungan jenang yang dikirab, Widyo berharap dapat memperkenalkan makanan jenang yang berasal dari Desa Kaliputu.

“Ada sejumlah gunungan jenang yang dikirab. Maknanya biar pengusaha tambah sukses, tambah guyub biar tidak ada persaingan, tidak jalan sendiri, kita jalan bersama membangun Desa Kaliputu melalui acara ini tebokan jenang ini,” ungkap dia.

Sosok Sosrokartono

Drs, RMP. Sosrokartono merupakan kakak dari RA. Kartini yang dimakamkan di Kota Kudus. Tepatnya di kompleks Makam Sido Mukti Desa Kaliputu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Salah satu tokoh besar Indonesia yang banyak mempengaruhi pemikiran Kartini. Oleh orang Belanda, Sosrokartono dikenal dengan sebutan Si Jenius dari Timur karena menguasai 35 bahasa atau polyglot. Atau juga sering disebut sebagai Pangeran Jawa karena ketampanannya.

Sosrokartono lahir di Mayong, Jepara pada Rabu Pahing 10 April 1877 Masehi dari pasangan Raden Mas Semangun Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Kakek dari ayahnya adalah seorang Bupati Demak bernama R.M.A.A. Ario Tjondronegoro IV.

Sedangkan kakek dari ibu adalah seorang pemimpin sebuah pondok pesantren di Teluk Awur bernama Kyai Haji Modirono. Eyang buyut Sosrokartono adalah R.M.A.A. Tjondronegoro III seorang Bupati Kudus yang sangat dihormati.

Kompleks Sedo Mukti yang ada di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota itu juga banyak makam bupati dari berbagai daerah yang memang masih satu keluarga.

Setiap satu tahun sekali yakni di malam 1 Syuro peninggalan Jawa akan digelar Haul dengan doa bersama dan pengajian yang dihadiri warga sekitar, masyarakat umum dan keluarga

Sosrokartono sendiri selain dikenal sebagai tokoh bangsa, wartawan, ahli bahasa, cendekia, juga banyak diakui keilmuannya dalam agama Islam.

Banyak nilai-nilai luhur yang diajarkannya terutama tentang kejujuran, kesederhanaan, dan bersikap baik dan selaras dalam pikiran, perasaan, perbuatan dan perkataan.

“Jadi datang ke kompleks makam Sedomukti ini selain bisa berziarah tentu juga bisa belajar sejarah. Juru kuncinya pun dengan ramah akan menjelaskan kepada kita,” ujar Supriyono, Ketua Pokdarwis Desa Kaliputu, kecamatan Kudus Kota seperti yang dilansir dari suaramerdeka

Selain sebagai tempat berziarah, Makam Sosrokartono sendiri saat ini banyak menjadi jujukan pelajar, mahasiswa hingga akademisi untuk melakukan penelitian. (Oke/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *