Pelatihan Menulis untuk Napi, Ungkap Pahit Manis di Lapas Jadi Pelajaran Bagi Masyarakat – Liputan Online Indonesia

SUMBAR, liputanbangsa.comMenjadi narapidana atau warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas) membuat seseorang jadi frustasi.

Seakan masa depannya sudah “selesai”. Tidak ada lagi kesempatan untuk lebih baik.

Pemikiran itu wajar, namun bagi warga binaan menyadari kesalahannya, mau untuk bangkit, dan optimistis, maka pengalaman di dalam bisa menjadi pelajaran bagi diri sendiri maupun orang lain yang belum pernah masuk ke lapas.

Pendapat itu diungkapkan oleh Direktur Posmetro Padang Firdaus Abie saat menjadi pemateri dalam pelatihan praktis bagi warga binaan Lapas Kelas III Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) pada Rabu (25/10/2023).

Pelatihan yang diikuti 40 warga binaan Lapas Kelas III Suliki itu bertemakan “Pena di Balik Jeruji Wujudkan Mimpi”

“Setiap tulisan yang dihasilkan peserta tidak hanya mengisahkan pahit manisnya kehidupan yang mereka jalani. Ada pesan dan amanat yang bisa menginspirasi orang-orang yang membaca,” kata Firdaus Abie, Kamis (26/10).

Firdaus Abie ketika didaulat sebagai pemateri memberikan pelatihan menulis dan praktik menulis.

Dia memotivasi para warga binaan soal manfaat menulis, menjelaskan seluk beluk dunia kepenulisan, teknis memperoleh ide tulisan cepat dan tepat, merangkai kata dan bagaimana proses editing naskah.

Semua materi itu didiskusikan.

Pelatihan itu dibuka Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Datuak Bandaro Rajo, dihadiri Bunda Literasi Limapuluh kota, Ny Nevi Safaruddin, dan Kepala Lapas Kawesworo.

Adapun pelatihan itu program Inovasi Pembinaan dikemas sejalan dengan peringatan ke 95 tahun Sumpah Pemuda.

Bupati Limapuluh Kota Safaruddin sangat mengapresiasi pelatihan itu.

Pasalnya, menulis bisa menjadi modal besar bagi warga binaan karena kemampuan menulis adalah sebuah keterampilan atau kecakapan khusus.

“Aktivitas ini sangat positif. Sebuah inovasi dalam pembinaan untuk warga binaan,” kata bupati.

Kamesworo menambahkan, pihaknya berupaya memberikan bekal ilmu bagi warga binaan, supaya ketika mereka keluar dari lapas bisa lebih mandiri dan bisa menghadapi tantangan hidup dengan optimistis.

“Kita harus menyadari, kemampuan menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan hari ini dan masa depan. Banyak peluang pekerjaan dari dunia menulis ini,” katanya.

Untuk menstimulasi, kata Kamesworo, pihaknya akan membukukan tulisan para warga binaan dari hasil pelatihan itu.

Sebelum itu, semua naskah disunting sesuai dengan standar naskah layak muat untuk sebuah buku.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *