liputanbangsa.com – Uswatun Hasanah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng katakan salah satu skema Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk mengatasi kemiskinan ekstrem, ialah melalui jalur pendidikan.
Ganjar menilai saat ini penanganan kemiskinan terus dilakukan secara maksimal, mengingat masih tingginya angka kemiskinan. “Secara umum kemiskinan (Wonogiri, Sragen, Klaten) relatif masih agak tinggi. Wonogiri sudah agak bagus,” tutur Ganjar di Balai Desa Mlokomanis, Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.
“Yang sedang kami jalani saat ini yaitu dengan penambahan unit sekolah baru (USB). Sekarang ada SMA Tawangmangu, SMK Lumber, SMK Pagentan di Jawa Tengah,” tutur Uswatun dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, (26/1).
Ganjar menilai saat ini penanganan kemiskinan terus dilakukan secara maksimal, mengingat masih tingginya angka kemiskinan. “Secara umum kemiskinan (Wonogiri, Sragen, Klaten) relatif masih agak tinggi. Wonogiri sudah agak bagus,” tutur Ganjar di Balai Desa Mlokomanis, Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.
Disdikbud Jateng menambahkan, saat ini tersedia kelas jauh di Klaten dan kelas virtual di Brebes, Purbalingga, serta Boyolali. Tiga kelas virtual tersebut masih bisa bertambah jumlahnya. Selain itu, fasilitas yang didapat pada kelas virtual tersebut adalah adanya support kuota, support telepon seluler, sehingga anak bisa sambil bekerja.
Uswatun mengatakan pihaknya juga bekerja sama dengan Disdik kabupaten/kota perihal program Paket C, Paket B, dan lain sebagainya. “Sekaligus untuk anak-anak yang sudah lulus SMK, itu kami kerja sama dengan Disnakertrans untuk penempatan mereka bekerja,” imbuhnya.
Sementara itu, terdapat penambahan jumlah SMK boarding dan juga satu kelas lagi. Saat ini total tersedia 15 SMK semi boarding dan 3 SMK boarding, yakni tiga SMK Jateng di Kota Semarang, Pati, dan Purbalingga.
“Skemanya adalah, mereka anak-anak yang tidak mampu, plus anak-anak miskin yang dapat beasiswa dari pak Gubernur yaitu di SMA Taruna Nusantara, tiap tahun dibiayai semuanya, total. Termasuk SMK semi boarding, SMA boarding, SMA/SMK gratis,” imbuhnya.
Jika pola pikir atau mindset melalui pendidikan diubah, ia menilai hal ini penting untuk menangani kemiskinan. Penanganan kemiskinan tidak hanya berhenti samapai mencegah pernikahan dini yang berdampak pada ekonomi saja.
“Di sekolah itu ada materi kewirausahaan menjadi kurikulum yang terintegrasi. Sekarang mau berusaha, orang itu tidak harus modalnya uang banyak, tapi juga keberanian berspekulasi, di era online, itu bagus juga untuk pengembangan kewirausahaan. Baik SMK maupun SMA. SMA Tawangmangu ke depannya juga begitu,” ujarnya. (afifah/lbi)

