liputanbangsa.com – Pakistan alami pemadaman listrik massal, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pastikan pasokan energi untuk kelistrikan nasional dalam kondisi yang aman dan tak akan terjadi pemadaman listrik massal seperti Pakistan.
Langkah-langkah strategis telah dilakukan untuk menjaga pasokan energi, seperti penguatan energi primer untuk pembangkit listrik agar menjamin keandalan suplai listrik ke pelanggan. Pernyataan tersebut diterangkan oleh Darmawan Prasodjo selaku Direktur Utama PLN dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (8/2).
“Kondisi kelistrikan nasional Indonesia dalam kondisi yang sangat aman. Setiap pilar sistem kelistrikan kita sangat kokoh,” ucapnya.
Demi menghadapi krisis energi global, PLN memperkuat sistem kelistrikan nasional dengan menggunakan three line of defence, yakni menggunakan batu bara, gas, dan BBM, menurut Darmawan.
“Demi memastikan pasokan listrik terjaga, kami pastikan kecukupan energi primer seluruh pembangkit di Indonesia lebih dari cukup,” tutur Darmawan.
Selain itu, PLN juga telah melakukan penataan ulang kontrak kerja sama menjadi jangka panjang dan kokoh. Pengawasan juga dilakukan melalui fisik di lapangan dan integrasi sistem monitoring digital.
“Kami integrasikan sistem digital PLN dengan sistem digital Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, sehingga dapat dilakukan corrective action secara cepat, tepat, dan terukur,” tambah Darmawan.
Tak hanya penataan ulang kontrak kerjasama dan sistem pengawasan saja, PLN juga membangun mekanisme early warning system yang dapat meminimalisir keterlambatan pengiriman pasokan batu bara. Selain itu, PLN mengubah paradigma sistem pengendalian pasokan batu bara menjadi titik muat atau loading setelah sebelumnya fokus pada titik bongkar Estimated Time of Arrival (ETA).
“Dengan sistem seperti ini maka jika ada potensi kegagalan pasokan karena ketersediaan batu bara maupun armada angkutannya, akan dapat dideteksi lebih dini. Bahkan setiap pergerakan pasokan energi primer dapat termonitor secara digital,” kata Darmawan.
“Di Pakistan stok energi primer pembangkitnya yaitu gas sangat terbatas. Ditambah Pakistan sedang mengalami tekanan ekonomi, sedangkan energi primernya didominasi impor tanpa kesiapan pasokan, tidak ada kontrak jangka panjang, maka stok pun semakin terbatas,” jelasnya.
Eddy Sorparno selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI menilai langkah yang dilakukan PLN tersebut mampu meminimalisir risiko gangguan listrik dan menjamin pasokan listrik andal bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia mendukung penuh langkah dan strategi PLN tersebut.
“Ketika ada fluktuasi demand listrik, maka pasokan kelistrikan akan down dan tidak mampu recover karena tidak cukupnya stok energi primer,” jelas Darmawan.
“Komisi VII DPR RI mengapresiasi PLN dalam meningkatkan kinerja pada tahun 2022, termasuk dalam menjaga pasokan energi primer pembangkit sehingga didapatkan Hari Operasi Pembangkit (HOP) rata-rata di atas 20 hari,” ujar Eddy.

