SEMARANG, liputanbangsa.com – Jateng dianggap memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata ramah muslim.
Bahkan provinsi Jateng, bisa menjadi destinasi wisata ramah muslim terbesar di Indonesia dan dunia.
Potensi Jateng sebagai destinasi wisata ramah muslim terbesar di dunia itu disampaikan Tim Visitasi Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2023, Riyanto Sofyan.
Disampaikan saat diskusi penyusunan data kajian IMTI, di Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Jl Kimangunsarkoro Semarang, Rabu 26 Juli 2023.
Riyanto yang merupakan Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) itu, menyampaikan, selama dua hari berkunjung ke Jateng, melihat potensi yang luar biasa.
Menurutnya, bersama tim antara lain yaitu Direktur Wisata Minat Khusus Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Itok Parikesit dan Direktur Wisata MICE Kemenparekraf Iyung Masruroh, telah mengunjungi berapa tempat.
Di antara tempat tersebut, yaitu Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Hotel Grasia, Restoran Pesta Keboen, dan Kantor Disporapar Jateng.
”Alhamdulillah kami sekarang bisa bertemu dengan para ketua asosiasi dan Kepala Disporapar Jateng.”
”Kami rasakan sebenarnya Jateng itu sudah semuanya ada, sudah ramah muslim,” katanya.

Hanya saja, untuk sekarang, lanjut Riyanto, bagaimana bisa memenuhi standar atau parameter yang sudah ditetapkan Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index, dalam rangka pelaksanaan IMTI.
“Jadi inilah yang nanti kita sudah semua satu paham, yang akan kita follow up dengan bimtek dan juga travel trip. Kemudian juga mungkin dengan traning for trainer,” katanya.
Ia berharap dengan cara tersebut, setiap pelaku usaha pariwisata di semua sektor, baik hotel, restoran, profesi tour gaide, tour leader, dan asosiasi pelaku usaha benar-benar siap.
Selain itu, kata dia, Asperapi dari para pelaku usaha juga harus bisa menonjolkan bahwa mereka itu sudah memiliki dan ada keunikan.
Baca Juga :
Bersama Jatim Park Garap Wisata Solo, Gibran : Nanti Tahu-tahu Jadi – Liputan Online Indonesia
“Inilah yang nanti kita akan garap bersama-sama. Kita bergerak bersama InsyaAllah Jateng bisa mengkapitalisasi pasar dan meningkatkan devisa masuk ke Jateng baik jumlah wisman maupun bisnis,” katanya.
Menurutnya, ranking Jateng jika dilihat dari hasil tahun 2018-2019, masih berada pada posisi kedelapan.
Sedangkan ranking pertama Nusa Tenggara Barat, Aceh, DKI dan sebagainya.
Meski demikian, Riyanto yakin, dengan apa yang sudah dilakukan sekarang, ditambah nanti akan ada rancangan Pergub, serta komitmen bersama, Jateng bisa naik menjadi yang pertama.
“Dengan adanya komitmen bersama dari semua stakeholder, baik itu pemerintah maupun asosiasi pariwisata juga akademisi dan pengusaha, insyaAllah bisa mengangkat posisi Jateng bisa menjadi nomor satu,” katanya.
Sementara itu, Kabib Pemasaran Disporapar Jateng Setyo Irawan, menyampaikan, wisata ramah muslim potensinya sangat tinggi.
Karenanya, untuk menarik jumlah kunjungan wisata ke Jateng berbagai usaha telah dilakukan.
“Kita dengan asosiasi pegiat wisata, bersama-sama menggarap potensi wisata ramah muslim.”
”Karena ini menjadi daya tarik sendiri untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” katanya.
Menurutnya, dengan adanya kunjungan dari Tim Visitasi IMTI, akan memacu pegiat pariwisata di Jateng untuk mengembangkan diri, sehingga sesuai standar sebagai wisata ramah muslim.
“Ini akan memberikan pencerahan terhadap kami yang ada di Disporapar Jateng termasuk kepada teman-teman asosiasi.”
”Bahwa potensi pariwisata ramah muslim di Jawa Tengah cukup besar, cuma belum dioptimalkan,” katanya.
Karenanya, ia berharap, dengan bergerak bersama untuk mengoptimalkan potensi yang ada tersebut, wisata ramah muslim di Jateng akan semakin meningkat.
(ar/lb)

