Profesi Petani Mulai Ditinggalkan, Warga Desa Cikembar Lebih Pilih Jadi Live Streamer TikTok

liputanbangsa.com – Puluhan warga Desa Cikembar, Sukabumi tiba-tiba menjadi Live Streamer TikTok.

Mereka rela joget-jogetan agar dapat saweran dari sang penonton.

Makin banyak saweran yang didapat maka semakin banyak pula cuan yang dihasilkan.

Puluhan warga kampung tersebut sebelumnya merupakan petani.

Aksi joget dari puluhan petani ini pun viral setelah dibagikan akaun TikTok @Aalay85.

Dalam video viral yang beredar memperlihatkan suasana ramai puluhan warga berkerumun di area perkampungan.

Mereka berkelompok dan masing-masing menatap layar.

Masing-masing kelompok warga tersebut ada yang berjoget hingga berinteraksi lewat layar handphone-nya.

Berkerumunnya warga tersebut terdengar menimbulkan suara riuh bak berada di pasar.

Terdengar sejumlah warga tersebut berjoget sembari bernyanyi wadidaw.

 

Petani yang Beralih Profesi

Diketahui puluhan warga joget hingga berinteraksi lewat layar handphone tersebut sedang melakukan live streaming TikTok.

Menurut narasi yang beredar, puluhan warga ramai-ramai joget wadidaw tersebut adalah petani yang beralih profesi jadi live streamer.

Tujuannya agar mendapat penghasilan donasi dari pengguna TikTok yang menyawer.

Sontak hal tersebut jadi bulan-bulanan netizen yang prihatin dan miris dengan kondisi tersebut.

Video aksi puluhan warga disebut beralih profesi dan ramai-ramai joget wadidaw itu pun menuai sorotan dari netizen.

Sejumlah netizen prihatin dan miris melihat keadaan warga sekampung tersebut.

Menurut keterangan, puluhan warga tersebut berada di Desa Cikembar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Beragam Komentar Netizen

ariefsatria_ “Kasihan banget lihat petani sampai harus live sambil joget buat bertahan hidup. Mereka bukan cari sensasi, tapi cari makan. Harusnya kita bisa lebih peduli dan bantu mereka tetap punya harapan tanpa ninggalin identitasnya”

mauzanaf “Ada baiknya indonesia mengikuti langkah canada, blokir aplikasi problematik dan tempat berkumpulnya sdm rendah “tiktod””

adenium_jogjawates “Para petani ini benar dan sadar realita hrga pupuk tak sebanding dgn tenaga dan hasil panen”

didieth_ramone “Pertanyaan gw buat yg nonton live streaming beginian, apa bagusnya?”

fitiafilia “Dari sini paham, kenapa jabar angka pengangguran banyak”

anggaraputra_94 “Ngemis online , indonesia cemas,” tulis beragam komentar netizen.

 

Kasus Sadbor

Diberitakan sebelumnya, Kampung Margasari, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sempat sepi saat Gunawan Sadbor ditangkap polisi.

Ya, warga kampung sempat ketakutan dan kapok setelah insiden tersebut.

Kini mereka sudah kembali ramai melakukan live TikTok.

Diketahui, Gunawan diduga terlibat mempromosikan judi online dengan berjoget ayam patuk secara live di TikTok.

Padahal, dari joget secara live di TikTok, Gunawan dan warga mendapatkan banyak saweran per harinya.

Dua konten kreator polisi yang sudah dikenal publik, Ipda Herman Hadi Basuki atau yang dikenal Pak Bhabin dengan Aipda Monang Parlindungan (MP) Ambarita lalu mendatangi kampung tersebut untuk memberikan sosialisasi terkait bahaya judi online.

Mereka lalu bertemu dengan warga yang sering joget Sadbor secara live di TikTok.

Agar tak membikin suasana menjadi tegang, Pak Bhabin bersama Ambarita lalu berjoget Sadbor bersama mereka.

“Ini tadinya kan ramai banget ya? Kok mendadak sepi,” tanya Pak Bhabin kepada salah satu warga.

“Takut,” ujar warga tersebut.

 

Promosi Judi Online

Ketakutan warga ternyata berawal dari penangkapan Gunawan.

Gunawan sempat dijadikan tersangka karena diduga mempromosikan judi online gara-gara joget Sadbor di TikTok.

Ambarita lalu menjelaskan jika kegiatan live di TikTok dibolehkan, tetapi tidak untuk mempromosikan judi online.

Pak Bhabin juga mengingatkan bahaya dampak judi online terhadap masyarakat luas.

“Judi online itu sangat bahaya ya, kita kan sudah tahu bersama uang yang harusnya buat beli susu, buat bayar sekolah, buat makan, dipakai buat judi online, sehingga dampaknya luar biasa.”

“Ada yang sampai bunuh diri, jual anaknya, dan sebagainya. Kita tidak menganjurkan,” kata Pak Bhabin.

Sebelumnya, setiap memulai berjoget sadbor, warga selalu membuka dengan sebuah intro khas.

“Beras habis, live solusinya,” ujar warga, lalu mereka mulai berjoget.

Namun kini intro tersebut sudah direvisi.

“Kalau beras habis,” tanya Ambarita.

“Kerja,” seru warga serempak.

Pak Bhabin lantas bertanya lagi.

“Kerja apa?”

“Joget,” jawab warga lagi, lalu semua tertawa.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *