Wisata Edukasi Mengenal Kearifan Lokal di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus

ByRedaksi

6 Juni 2023
Dokumentasi Rhy HusainiDokumentasi Rhy Husaini

Kudus, Liputanbangsa.com Kampung Budaya Piji Wetan, berada di desa Lau Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus bisa menjadi rekomendasi wisata edukasi. Kampung tersebut telah dikembangkan untuk daya tarik wisata dengan mengangkat kearifan lokal dan seni budaya.

Kearifan lokal dan seni budaya itu diantaranya dengan nguri-nguri  ajaran Kanjeng Sunan Muria. Seperti Tapa Ngeli dan Pager Mangkok.

Muchamad Zaini, sang penggagas Kampung Budaya Piji Wetan mengatakan bahwa pembentukan kampung budaya berawal dari keprihatinan terhadap kebudayaan masyarakat yang cenderung luntur. Terpaan zaman yang berdampak menghilangkan budaya leluhur itu dirasa tak pantas untuk diteruskan generasi muda.

wisata
FOTO Dok. Rhy Husaini

Oleh sebab itu pihaknya mengkombinasi budaya, dengan tidak mempertahankan budaya leluhur dengan budaya masa kini yang pas untuk adat ketimuran, ”Kami tak serta merta meninggalkan kemajuan zaman, justru budaya kuno kami kemas dengan masa kini,” terangnya.

Ada empat kegiatan yang digelar, Pasar Ampiran, kelas pagi, Panggung Ngepringan, dan Taman Dolanan.

Untuk gelaran kelas pagi, membahas tentang citizen journalism. Kemudian, gelaran Taman Dolanan Anak yang menyuguhkan permainan tradisional, seperti congklak, gendrik, egrang, dan masih banyak lagi permainannya.

“Untuk taman Dolanan anak bercerita tentang filosofi permainan tradisional,” tuturnya.

Lebih lanjut, ada Pasar Ampiran, yang memgharuskan penghunjung untuk menukarkan uang asli dengan uang koin dari bahan kayu agar dapat membeli makan dan minuman tradisional khas Dukuh Piji Wetan, Desa Lau.

wisata
Dokumentasi Kampung Budaya Piji Wetan

Terakhir, masih kata Zaini, ada panggung Ngepringan, yaitu pementasan rakyat. Dimana anak-anak desa yang memerankan langsung cerita tentang Legenda Sunan Muria dan asal usul Dukuh Bakaran.

“Jadi ini adalah sebuah program pemberdayaan desa bekerjasama dengan Kemendikbud yang mengangkat Budaya dan Kearifan lokal,” tutur dia.

Dikemas apik dengan kearifan lokal, serta memegang teguh ajaran dari Sunan Muria, yaitu Tapangeli dan Pager Mangkuk praktis membuat guyub dan semangatnya Warga Piji Wetan.

“Kami berharap dengan kegiatan ini, muncul khazanah budaya khas lokal yang menjadi pilar kebaikan dan menghidupkan ekonomi warga,” tandas dia

Ia menjelaskan, laku Tapa Ngeli mengandung makna, sengaja menghanyutkan diri tetapi tidak terbawa oleh arus gelombang yang ada. Kedua, ajaran Pagar Mangkuk. Ini untuk mendidik masyarakat agar ringan tangan dalam bersedekah dan membantu orang lain.

BACA JUGA :

Melihat Sejarah Kudus Tempo Dulu di Museum Kretek Sembari Wisata Keluarga

Pentingnya mengenal kearifan lokal di wilayah sendiri, bagi pemuda itu sebagai proses pencarian jati diri. Budaya desa atau warisan leluhur bisa dipegang erat dan dilestarikan.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah mengatakan, Kampung Budaya Piji Wetan statusnya sudah rintisan desa wisata, dimana tidak hanya menarik wisatawan tapi juga nguri-nguri budaya zaman dulu yang sekarang ini hampir punah, karena pergeseran generasi masa sekarang dan dulu.

Semangat tersebutlah yang bisa ditangkap dari beragam kegiatan dan masyarakat juga bisa memanfaatkan untuk pengembangan kesejahteraan melalui pariwisata.

”Dulu awalnya dari lomba desa dan menang sampai tingkat nasional. Kemudian, konsep tersebut dilanjutkan hingga sekarang. Kegiatannya juga unik-unik, lokasinya juga di-setting masih suasana tempo dulu di kebun yang banyak pohon bambunya dan ada stan berupa gubug untuk menjual kuliner khas desa atau dukuh setempat,” tandasnya. (Oke/lbi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *