Viral Akibat Aksi Kekerasan, Wisata Titik Nol Yogyakarta Kembali Bangun Jejak Digital Positif – Liputan Online Indonesia

Viral Akibat Aksi Kekerasan, Wisata Titik Nol Yogyakarta Kembali Bangun Jejak Digital Positif - Liputan Online Indonesia. Foto : Instagram/@jogjagokil

YOGYAKARTA, liputanbangsa.com – Adanya aksi kekerasan yang terjadi di destinasi wisata Nol Kilometer Yogyakarta menyebabkan nama tempat wisata itu menjadi viral di media digital, namun dari sisi negatif.

Sehingga destinasi wisata tersebut harus diselamatkan, tercemarnya Titik Nol jika dibiarkan berkepanjangan  dikhawatirkan bisa membawa dampak buruk bagi destinasi wisata utama tersebut.

Penyelamatan destinasi wisata dari cemaran peristiwa kekerasan di Titik Nol tersebut terungkap dalam diskusi pariwisata dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional di Hotel Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Kamis (9/2/2023).

Dalam diskusi hadir pembicara antara lain, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY GKR Bendoro, Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardiyanto Setyo Aji, Direktur Industri Pariwsata dan Kelembagaan Kepariwista Badan Otorita Borobudur (BOD) Bisma Jatmika, Anchor CNN Indonesia Alfian Raharjo dan Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo.

Para narasumber berpendapat pariwisata di Yogyakarta, khususnya di Titik Nol harus diselamatkan. Mengingat saat jejak digital sudah sangat negatif.

Ketika meletakkan keyword Titik Nol Yogyakarta di Google, maka informasi teratas yang disajikan adalah kekerasan ‘klithih’ di Titik Nol. Sedangkan informasi mengenai asyiknya mengunjungi Titik Nol sudah ‘tenggelam’.

“Saya setuju dengan usulan untuk membangun jejak digital baru yang positif di titik nol,” ujar Singgih Raharjo.

Menurutnya, jika berita negatif dicounter tidak menyelesaikan masalah. Namun jika membangun jejak digital baru yang positif, dengan berbagai kegiatan wisata, promosi yang menarik di Titik Nol, akan lebih menutup jejak digital yang negatif tadi.

“Langkah tersebut bisa kita lakukan,” katanya.

Singgih berharap kejadian kekerasan jalanan di destinasi wisata merupakan yang terakhir. Pihak aparat keamanan melakukan pengusutan tuntas dan diharapkan tidak terjadi lagi di kemudian hari.

GKR Bendoro mengungkapkan kekecewaannya atas peristiwa ini karena baru saja Yogyakarta menjadi tuan rumah pelaksanaan ASEAN Tourism Forum (ATF). Sudah 2 minggu lebih bekerja keras membangun citra positif melalui ATF, namun dengan peristiwa kekerasan di destinasi wisata membuatnya kecewa.

Sementara, Putri Sultan Hamengku Buwono X  mengajak media untuk tidak menggunakan kata klithih pada setiap kejadian kekerasan jalanan di Yogya. Karena peristiwa kekerasan jalanan tersebut juga terjadi didaerah lain.

“Memang kata klithih clickbait banget. Tetapi kata negatif itu langsung menunjuk Yogya,” ujarnya.

Bobby Ardiyato mengharapkan tumbuhnya kesadaran masyarakat Yogyakarta untuk menyelamatkan pariwisata Yogyakarta dari dampak peristiwa kekerasan jalanan.

“Jika kesadaran sudah tumbuh, maka pariwisata akan terjaga dan tumbuh,” ujar Bobby.

Diingatkan oleh Bobby, perekonomian di DIY bergantung pada aktivitas pariwisata dan pendidikan. Karena itu kondisi Yogyakarta harus dijaga citranya. Jangan sampai tercoreng, sehingga mempengaruhi citra Yogya sebagai destinasi wisata dan kota pendidikan. (dian/lbi)

Bydian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *