Disebut Perang Rusia-Ukraina Berdampak Pada Wisata Bali, Ada Apa? – Liputan Online Indonesia

Wisata BaliDisebut Perang Rusia-Ukraina Berdampak Pada Wisata Bali, Ada Apa? - Liputan Online Indonesia Foto : IStock/Cheryl Ramalho

DENPASAR, liputanbangsa.com – Sekalipun jauh, namun perang Ukraina-Rusia disebut berdampak pada pariwisata di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Bali, Tjokorda Bagus Pemayun, dirinya tidak memungkiri perang tersebut berdampak kepada kunjungan wisman dari dua negara yang berkonflik itu untuk liburan ke Bali.

Ribuan warga kedua negara dilaporkan datang ke Pulau Dewata. Banyak yang menjadikan Bali sebagai rumah baru, setelah meninggalkan negara mereka menyusul invasi yang hampir 1 tahun yang lalu.

Pemayun mengatakan, Bali sebelumnya jadi pilihan tempat liburan warga Rusia – Ukraina karena nyaman untuk berlibur.

Mengutip Channel News Asia (CNA) yang mengutip data pemerintah, lebih dari 7.000 orang Ukraina tiba di Bali tahun lalu. Bahkan di Januari 2023 saja jumlahnya lebih dari 2.500 kedatangan.

“Mereka merasa nyaman, apalagi ada sertifikat CHSE dan lainnya itu. Bali daerah nyaman karena dari mulut ke mulut banyaklah wisatawan Rusia dan Ukraina ke sini,” katanya.

Ia juga menyebutkan, bahwa kunjungan wisatawan Rusia ke Bali pada Bulan Januari 2023 sudah ada di peringkat dua yang sebelumnya diduduki oleh wisatawan India.

“Di bulan Januari 2023, (Wisatawan Rusia) nomer dua setelah Australia menggeser India. Wisatawan Rusia sekitar 19 ribu di Bulan Januari. Kalau Ukraina sekitar dua ribuan,” jelasnya.

Ia juga menyatakan, sebelum Pandemi Covid-19 kunjungan wisatawan Rusia ke Bali berada di 10 besar dan Ukraina ada di 15 besar. Apalagi setelah Pandemi Covid-19 dan terjadinya perang kunjungan ke dua negara tersebut meningkat.

“Memang tren (kunjungan wisatawan) Rusia meningkat terus baik itu sebelum Pandemi Covid-19 apalagi setelah pandemi ini. (Kalau waktu perang) kalau dari segi data meningkat terus Rusia dan Ukraina juga meningkat,” ujarnya.

Bisnis Pindah ke Bali

Sementara itu, setelah perang dimulai, salah satu biro perjalanan Ukraina memutuskan untuk memindahkan basisnya ke Bali. Dan juga mempekerjakan beberapa orang Ukraina untuk bekerja di sana.

Beberapa warga Rusia juga menawarkan dukungan kepada sesama warganya yang ingin pindah ke Indonesia. Ms Anna Pomarina misalnya.

Ia memiliki konsultan membantu perusahaan berbahasa Rusia mendirikan toko di Indonesia. Dia juga memiliki sebuah hotel di Bali tempat dia pindah pada awal pandemi Covid-19.

“Saya membantu lusinan bisnis untuk memulai di sini di Indonesia, karena mereka sedang mencari cara untuk mendapatkan uang lagi untuk keluarga mereka atau mereka ingin mengembangkan bisnis yang sudah ada,” katanya.

Menurut Badan Pusat Statistik, wisatawan Rusia menduduki peringkat ke-9 pada tahun 2021 dalam hal membelanjakan uang di Indonesia. Mereka menghabiskan rata-rata US$3.710 per perjalanan.

Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa bisnis Rusia menyumbang lebih dari 6,5 persen investasi asing di Bali tahun lalu, naik dari 5% pada tahun 2021, dengan terkonsentrasi di real estate.

“Bayangkan jika tidak ada perang antara Rusia dan Ukraina, kami yakin akan terjadi ledakan jumlah wisatawan Rusia danUkraina ke Bali karena mereka melihat Bali memang unik,”  kata Ketua Aliansi Operator Pariwisata Marjinal di Bali, I Wayan Puspa Negara, dikutip laman yang sama.

Meskipun jauh, banyak orang Ukraina dan Rusia masih berharap untuk kembali ke rumah mereka ketika konflik berakhir. Sementara itu, mereka percaya tinggal di Bali adalah pilihan terbaik yang bisa mereka ambil.

(dian/lbi)

Bydian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *