liputanbangsa.com – Serentak dimulai pada Kamis (23/3), Idul Futri dinilai memiliki potensi perbedaan dengan Awal puasa Ramadhan 1444H atau tahun 2023.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengatakan pernyataan tersebut di akun instagramnya @t_djamal.
“Puasa Ramadhan 1444 baru dimulai. Tetapi banyak yang sudah bertanya tentang Idul Fitri 1444. Terutama kepastian akan terjadi perbedaan,” ujarnya.
Idul Fitri dikatakan salah satu anggota tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI memiliki makna sosial dan budaya, bukan hanya disebut sebagai akhir ibadah Ramadhan saja.
“Kegiatan mudik dan silaturahim keluarga besar perlu dijadwalkan agar sinkron. Itulah perlunya kepastian waktu Idul Fitri yang sering ditanyakan publik,” ujarnya.
Secara keilmuan astrinomi dan astrofisika, Idul Fitri 1444 H akan memiliki perbedaan. Hal itu disampaikan Djamal di lewat tulisannya di blog.
“Akhir Ramadhan atau Idul Fitri akan terjadi perbedaan, walau kepastiannya nanti diumumkan setelah sidang itsbat pada 29 Ramadhan atau 20 April 2023. Perbedaan Idul Fitri bukan karena perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi karena perbedaan kriteria,” sebutnya.
Pada siang 20 April 2023, ia menerangkan gerhana Matahari di Indonesia. Gerhana Matahari bksa dianggap menjadi ijtimak (konjungsi) yang teramati.
Meski kondisi ijtimak gerhana Matahari menunjukkan akhir siklus Bulan mengitari Matahari, tetap tak bisa dijadikan acuan penentuan bulan baru hijriyah. Berdasarkan hukum (fikih), penetapan bulan baru hijriyah harus didasari pengamatan atau posisi Bulan saat waktu maghrib.
“Nah, posisi Bulan saat maghrib 20 April yang masih rendah di ufuk barat menjadi sebab perbedaan karena kriterianya berbeda,” sebutnya.
Guna menentukan posisi Bulan ketika memasuki bulan baru hijriyah, dua kriteria ini harus digunakan:
- Kriteria wujudul hilal (Bulan lebih lambat terbenam daripada Matahari)
- Kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal yang menyatakan waktu Maghrib ketika Bulan telah di atas ufuk.
Gambar 1 merupakan alasan dari Muhammadiyah mengumumkan Idul Fitri pada 21 April 2023. Saat itu Indonesia tengah berada di atas arsir merah, artinya posisi Bulan sudah di atas ufuk.

Sementara itu, di gambar 2, wilayah diarsir biru merupakan wilayah yang pada saat maghrib posisi Bulan telah memenuhi kriteria baru MABIMS (tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat). Artinya, menurut kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) MABIMS, tidak mungkin terlihat hilal.

“Oleh karenanya, awal Syawal atau Idul Fitri pada kalender NU, Persis, dan Pemerintah (yang menggunakan kriteria MABIMS) ditetapkan pada hari berikutnya, 22 April 2023,” jelas Djamal.


Namun, menurut Djamal masyarakat harus menunggu kepastian Pemerintah umumkan keputusan Ramadhan 2023 atau 1 Syawal 1444 H usai sidang isbat pada 29 Ramadhan atau 20 April 2023. (afifah/lbi)

