Tes Calistung Masuk SD Resmi Dihapus, ini Alasan Nadiem Makariem – Liputan Oniline Indonesia

Tes Calistung Masuk SD Resmi Dihapus, ini Alasan Nadiem MakariemTes Calistung Masuk SD Resmi Dihapus, ini Alasan Nadiem Makariem. Foto: dok.kompas.com

liputanbangsa.com – Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim resmi menghapus tes baca, tulis, dan hitung (calistung) dari proses Penerimaan Peserta Didik Sekolah Dasar.

Tes calistung sendiri sebelumnya menjadi salah satu tahapan ketika calon peserta didik akan memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD). Tes Calistung sendiri ditujukan untuk memetakan kemauan siswa di tingkat Sekolah Dasar.

Nadiem menjelaskan, penghapusan tes calistung bukan tanpa alasan. Sebab sejak awal adanya tes ini menimbulkan miskonsepsi yang terjadi di masyarakat.

Nadiem mengatakan, banyak masyarakat yang menganggap tes calistung ini menjadi keharusan yang harus dikuasai anak-anak mereka ketika ingin melanjutkan ke SD. Oleh sebab itu, Nadiem khawatir miskonsepsi tersebut menyebabkan anak-anak tidak mendapatkan akses pendidikan yang merata karena tidak lolos tes calistung.

“Poinnya adalah ada miskonsepsi bahwa hanya calistung itu yang terpenting dan cara ngajarin calistungnya Itu juga salah,” kata Nadiem.

“Kenapa salah, karena ini menjadi suatu metode yang mengasosiasikan anak-anak PAUD kita, mengasosiasikan sekolah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan,” imbuh dia.

Sebaliknya, Nadiem menegaskan bahwa pendidikan bagi anak PAUD seharusnya tidak hanya mengedepankan calistung. Tetapi juga mengasah kemampuan peserta didik yang mencakup emosi, kemandirian, hingga kemampuan berinteraksi.

Untuk mengatasi miskonsepsi tersebut, Nadiem menyampaikan empat fokus pembelajaran yang perlu diberikan kepada siswa di tingkat PAUD yang hendak masuk SD.

Berikut empat fokus pembelajaran PAUD tersebut:

1.Pembelajaran PAUD dan SD berkesinambungan

Menurut Nadiem, transisi PAUD ke SD perlu berjalan dengan mulus. Artinya, proses pembelajaran kedua lembaga pendidikan ini harus berkesinambungan.

2. Pemenuhan kemampuan fondasi holistik

Selain itu, setiap anak juga harus mendapatkan kemampuan fondasi holistik, tidak hanya mengenai kemampuan kognitif saja.

Adapun kemampun fondasi holistik meliputi emosi, kemandirian, kemampuan berinteraksi, dan sebagainya.

3. Kemampuan literasi dan numerasi

Kemampuan literasi dan numerasi juga tidak kalah penting untuk mengatasi miskonsepsi mengenai calistung.

4. Siap sekolah

Menurut Nadiem, siap sekolah merupakan proses, bukan hasil. Proses itu perlu dihargai oleh satuan pendidikan dan orang tua yang bijak.

Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan kesiapan masing-masing saat memasuki jenjang SD, sehingga tidak dapat disamaratakan dengan standar atau label-label tertentu.

(heru/lbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *