JAKARTA, liputanbangsa.com – Belakangan muncul wacana untuk menduetkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo dalam satu paket pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).
Baik Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo dinilai memiliki potensi untuk memenangkan pemilihan presiden dengan lebih mudah, khususnya dalam format dua kandidat capres.
“Wacana ini berpotensi menimbulkan kompleksitas terkait penentuan siapa capres dan siapa yang akan menjadi cawapresnya,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulisnya.

Bahkan, kata dia, wacana menduetkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo adalah persoalan rumit dan pelik.
Karena akan berkaitan secara langsung dengan elektabilitas partai, di tengah proses Pemilu yang dilakukan secara serentak.
“Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak akan dengan mudah mengorbankan posisinya sebagai partai pemenang Pemilu, demi memuluskan langkah Prabowo dan Gerindra.”
“Begitu pula dengan Gerindra, yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan Prabowo sebagai capres,” ujarnya.
Sekaligus mengantarkan keberhasilan legislatif bagi Gerindra sebagai partai pemenang Pemilu.
Di sisi lain, kata dia, jika format koalisi besar tidak terbentuk dan pada akhirnya ada tiga poros koalisi, maka hal ini akan menjadi dilema bagi kubu nasionalis.
“PDIP dan Gerindra yang akan membuka peluang munculnya kuda hitam, yaitu Anies Rasyid Baswedan. Sebab jarak elektabilitasnya dengan Ganjar Pranowo tidak terpaut terlalu jauh,” tandasnya.
Merujuk data terbaru dari survei Voxpol Center, menunjukkan belum ada kandidat dengan elektabilitas yang cukup meyakinkan. Dimana elektabilitas ketiga kandidat tidak terpaut terlalu jauh.
“Dalam simulasi tiga, nama Prabowo dengan elektabilitas 36,5 persen di posisi pertama, Ganjar (30,4 persen) dan Anies (26,4 persen).”
“Hasil survei ini menggambarkan bahwa ada potensi pemilu dilakukan dua putaran,” tegasnya.
Bila situasi ini terjadi dan jika Anies berhasil masuk ke putaran kedua, lanjutnya, peluangnya untuk menang masih terbuka lebar.
Perebutan suara di kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan dan pergeseran suara pada putaran kedua, adalah kunci kemenangan.
“Membaca kompleksitas ini pada akhirnya mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa wacana ini hanyalah ilusi yang sangat mustahil untuk diwujudkan.”
“Atau dengan kata lain, wacana ini adalah kekhawatiran yang sangat berlebihan akan potensi dan ancaman kekalahan yang terus membayangi di depan mata,” tukasnya.
(ar/lb)

