3 Hal Unik Kota Singkawang, Dianggap Kota Paling Toleran di Indonesia – Liputan Online Indonesia

SINGKAWANG, liputanbangsa.com Setara Institute merilis laporannya bahwasanya Kota Singkawang berhasil mempertahankan statusnya sebagai ‘Kota Paling Toleran di Indonesia’ 2022.

Seperti yang kita tau, Kota Singkawang kental dengan keberagaman budaya dan rasa toleransi yang tinggi.

Meski mayoritas berpenduduk Tidayu (Tionghoa, Dayak, dan Melayu), masyarakat disana tetap guyub rukun dalam kemajemukan.

Dibalik itu semua, kota berjuluk Hongkong van Borneo ini memiliki sisi keunikan lainnya. Ada yang tau, bahwa di Singkawang terdapat pulau terkecil di Indonesia yang tak berpenghuni?

Berikut keunikan Kota Singkawang yang tak semua orang tau!

1. Tradisi Kebudayaan Cap Go Meh

Singkawang memang terkenal sebagai pusatnya perayaan Cap Go Meh Indonesia. Hal paling ikonik dalam perayaan di Singkawang ini adalah adanya arak-arakan patung dewa. Tidak lupa setiap sudut kota dihiasi dengan ribuan lampion.

Cap Go Meh itu apa sih? Cap Go Meh adalah serangkaian tradisi dalam perayaan tahun baru Imlek. Biasanya Cap Go Meh dilakukan setiap tanggal 15 bulan pertama Imlek.

Mengutip laman Kemenparekraf, perayaan Imlek termasuk Cap Go Meh di Singkawang menjadi perayaan Imlek tertua dan terbesar di Indonesia. Sejak 2008 perayaan ini dilakukan secara resmi oleh pemerintah Kota Singkawang.

 

2. Ada Pulau di Dalamnya: Jadi Pulau Terkecil di Dunia

Siapa sangka bahwa di dalam Kota Singkawang tepatnya di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan terdapat pulau kecil bernama Simping.

Pulau Simping didapuk sebagai pulau terkecil di Indonesia yang tak berpenghuni. Selain itu, pulau seluas 0,5 hektar ini juga telah diakui PBB sebagai pulau terkecil di dunia.

Meski tak berpenghuni, ternyata dulunya Pulau Simping sempat ditinggali. Salah satu hal yang bisa dinikmati di pulau ini adalah pemandangan laut dan pantai teluk Mak Jantu yang hanya berjarak sekitar 100 meter.

 

3. Ada Perumahan Tionghoa yang Lebih dari 100 Tahun

Jika ke Singkawang, jangan lupa mengunjungi wilayah Pekong Toa. Tepatnya di Gang Mawar, samping Sungai Singkawang. Mengapa?

Dalam kawasan itu, masih ada sebuah rumah dari salah satu keturunan Tionghoa yang usianya lebih dari seratus tahun, yakni Rumah Marga Tjhia.

Konon, rumah ini dibangun pada 1901, oleh keturunan langsung Xie Shou Shi (Tjhia Siu Si).

Gaya arsitektur rumah ini mirip rumah tradisional di China dengan strukturnya sebagian besar terbuat dari kayu besi.

Kini, Rumah Marga Tjhia telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya.

Itulah 3 keunikan dari Kota Singkawang. Gimana, tertarik untuk berkunjung?

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *