liputanbangsa.com – Di tengah polemik soal penerima beasiswa LPDP yang dinilai enggan kembali ke Tanah Air, sosok Aishah Prastowo justru menjadi contoh sebaliknya. Alumni LPDP generasi pertama ini adalah lulusan S3 Engineering Science University of Oxford, Inggris, yang memilih pulang ke Indonesia dan membangun sekolah berbasis STEAM bernama Praxis High School di Yogyakarta.
Praxis High School merupakan SMA alternatif berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics) yang berlokasi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Sekolah ini menonjol karena dipimpin langsung oleh seorang doktor lulusan kampus top dunia, sekaligus mengusung konsep pembelajaran masa depan yang dekat dengan dunia kerja
Jejak Akademik: Dari OSN, UGM, Paris hingga Oxford
Kecintaan Aishah pada sains tumbuh dari lingkungan keluarga. Ayahnya adalah dosen Fisika dan ibunya lulusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), membuat suasana rumah akrab dengan diskusi ilmiah sejak ia kecil. Saat ayahnya melanjutkan studi doktor di Queen’s University, Kanada, ia sempat ikut tinggal di sana dan semakin terinspirasi mengejar pendidikan tinggi di luar negeri.
Prestasinya di sains sudah tampak sejak SMP. Ia meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2004 di Pekanbaru, lalu diterima di S1 Teknik Fisika UGM pada 2007 saat usianya baru 16 tahun. Setelah lulus, Aishah melanjutkan studi S2 Interdisciplinary Approach to Life Science di Université Paris Descartes, Prancis, dengan beasiswa pemerintah Prancis, dan mendalami pendekatan lintas disiplin untuk memahami biologi dari sisi fisika, kimia, kedokteran hingga komputasi.
Saat magang penelitian S2 selama 3–4 bulan di beberapa laboratorium, ia merasa waktu tersebut terlalu singkat untuk betul-betul mendalami satu topik riset. Dari sinilah muncul tekad untuk lanjut S3. Pada 2013, ia mendapatkan informasi Beasiswa LPDP dari KBRI Paris dan mendaftar; Aishah kemudian lolos sebagai penerima beasiswa LPDP angkatan awal untuk studi doktoral.
Beasiswa LPDP dan Riset Mikrofluida di Oxford
Tahun 2014, di usia 23 tahun, Aishah resmi memulai studi doktoral di Engineering Science, University of Oxford. Usia tersebut tergolong muda untuk mahasiswa S3, namun ia mampu mengikuti ketatnya standar akademik kampus tersebut. Fokus risetnya adalah mikrofluida multifase, teknologi yang memproses fluida dalam volume sangat kecil (hingga skala mikroliter dan nanoliter) untuk berbagai aplikasi laboratorium dan kesehatan.
Melalui pendekatan mikrofluida, eksperimen seperti drug screening dapat dilakukan lebih efisien. Jika biasanya dibutuhkan tabung dan cairan dalam jumlah besar, pada skala mikro cukup menggunakan droplet kecil untuk menguji respons sel terhadap obat. Aishah menilai teknologi ini sangat relevan dikembangkan di Indonesia, misalnya untuk membuat alat diagnostik penyakit yang murah dan terjangkau di daerah terpencil yang belum memiliki laboratorium lengkap.

Proses menjadi doktor di luar negeri diakuinya tidak mudah. Ia harus beradaptasi dengan kultur kampus yang penuh mahasiswa ambisius, standar tinggi dari supervisor, dan dinamika diskusi akademik yang kritis. Namun dukungan Beasiswa LPDP dan kecintaannya pada riset membuat ia mampu menuntaskan studi dan memublikasikan hasil penelitiannya di jurnal-jurnal bereputasi yang kemudian banyak dikutip.
Viral di Medsos: Lulusan S3 Oxford Pilih Jadi Guru SMA
Meski awalnya membayangkan diri akan berkarier sebagai peneliti, perjalanan hidup justru membawa Aishah ke jalur pengabdian di sekolah menengah. Usai lulus sekitar 2019, ia menikah, mengasuh anak, lalu menghadapi masa pandemi Covid-19 yang membuatnya banyak terlibat dalam kegiatan mengajar dan mentoring riset secara daring.
Ia pernah membagikan kisahnya di media sosial: mengaku sebagai “alumni LPDP angkatan dinosaurus, S3 Engineering Science di Oxford” yang kini menjadi guru SMA. Unggahan tersebut sempat viral dan memicu beragam reaksi; ada yang menyayangkan lulusan S3 Oxford “hanya” mengajar SMA, ada pula yang mengapresiasi pilihannya turun langsung mendampingi generasi muda.
Faktanya, rata-rata kualifikasi guru SMA di Indonesia adalah D-IV atau S1. Aishah justru memilih menjadi guru sekaligus kepala sekolah Praxis High School dengan ijazah doktor dari universitas peringkat atas dunia. Keputusan ini sekaligus menjawab kritik terhadap alumni beasiswa yang dianggap tidak kembali berkontribusi di dalam negeri.
Praxis High School: SMA STEAM dengan Fokus AI, Riset, dan Robotika
Praxis High School lahir dari transformasi Praxis Academy, sebuah IT bootcamp yang awalnya fokus menjembatani lulusan kuliah dengan dunia kerja. Saat bertransformasi menjadi SMA, visi itu tetap dipertahankan: menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan profesi masa depan.
Sekolah ini mengusung kurikulum berbasis STEAM yang terintegrasi, memadukan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika dalam pembelajaran berbasis proyek. Siswa tidak hanya belajar mata pelajaran umum ala Kurikulum Merdeka, tetapi juga diperkuat dengan kemampuan riset, inovasi, bisnis, dan soft skill seperti komunikasi, kolaborasi, dan problem solving.
Lokasinya berada di Desa Bimomartani, Ngemplak, Sleman, dengan suasana asri dan ruang terbuka yang dikelilingi persawahan. Praxis berbagi lingkungan dengan Madrasah Technonatura, sehingga aktivitas pendidikan teknologi dan sains cukup terasa di kawasan tersebut. Sebagai SMA yang baru memiliki satu angkatan dengan sekitar delapan siswa kelas X, Praxis sudah menunjukkan hasil, salah satunya lewat partisipasi di kompetisi robotika internasional FIRST Tech Challenge di Vietnam dengan raihan Judges Choice Award.
Dari Riset ke Kelas: Mengubah “Bahasa Cinta” terhadap Ilmu
Menjadi guru dan kepala sekolah Praxis High School sebelumnya tidak ada dalam peta karier Aishah. Namun pengalaman mengajar, membimbing siswa dalam riset, dan merancang kurikulum membuatnya menyadari bahwa dirinya tetap berada di jalur yang sama: dunia ilmu pengetahuan, hanya “bahasa cintanya” yang berubah—dari laboratorium dan publikasi, menjadi kelas dan proyek siswa.
Di Praxis, riset bukan monopoli perguruan tinggi. Siswa didorong melakukan penelitian sejak SMA, mulai dari proyek kecil hingga keterlibatan dalam publikasi ilmiah. Salah satu murid Praxis bahkan terlibat sebagai co-author artikel jurnal Ilmu Tanah di Terra: Journal of Forest Management, menunjukkan bahwa pendekatan STEAM di sekolah ini bukan sekadar jargon.
Aishah melihat masa depan dunia kerja akan banyak dipengaruhi otomasi, robotika, dan kecerdasan buatan. Karena itu, Praxis High School memasukkan pembelajaran AI dan pemrograman sejak kelas X, disertai proyek robotika dan kolaborasi dengan mentor industri. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengejar nilai ujian, tetapi juga disiapkan untuk profesi yang mungkin belum ada saat ini.
Pesan Aishah: Guru Perlu Berani Kejar S2 dan S3 dengan LPDP
Pengalamannya menempuh S3 di Oxford dengan Beasiswa LPDP membuat Aishah yakin bahwa guru dan pendidik Indonesia perlu didorong untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Menurutnya, peningkatan kualitas SDM pendidikan tidak bisa hanya berhenti di S1, terlebih di era kurikulum yang menuntut literasi sains, teknologi, dan riset yang makin kompleks.
Ia mengajak para guru yang memiliki mimpi lanjut S2 atau S3 untuk tidak minder dan berani mencoba beasiswa seperti LPDP. Meski kontribusi yang terlihat mungkin “kecil”—sekadar mengajar di kelas-kelas biasa—dampaknya bisa sangat nyata bagi murid dan lingkungan sekitar. Kisah Aishah menjadi bukti bahwa alumni LPDP dan lulusan S3 Oxford juga bisa memilih jalur sekolah menengah, tanpa kehilangan makna kontribusi terhadap Indonesia. Rista

