Ada Sekolah Tanpa Tempat Sampah di Purworejo, Siswa Wajib Bawa Mangkok dan Gelas saat Jajan

liputanbangsa.comKisah sekolah tanpa tempat sampah viral di media sosial.

Uniknya, para siswa jajan wajib bawa mangkok atau piring dan gelas.

Hal ini untuk mengurangi penggunaan plastik di lingkungan sekolah.

Sampah memang menjadi permasalahan yang tak kunjung usai di berbagai daerah.

Banyak daerah hingga menghasilkan sampah sejak dalam ruang pembelajaran, yakni di sekolah.

Persoalan sampah ini tak berlaku di SD Negeri Kroyokulon, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Sekolah yang terletak di sebelah barat kota Purworejo ini bahkan tak punya tempat sampah di lingkungan sekolah.

Kepala SD Negeri Kroyokulon, Erti Widaryati mengatakan, meski tak ada tempat sampah, SD ini terlihat bersih dan rapi.

Siswa dituntut untuk bisa mengelola sampah secara mandiri.

 

Awal Mula Program

Widaryati bercerita, gagasan sekolah tanpa tempat sampah ini berawal dari keprihatinannya saat pertamakali datang ke sekolah melihat banyak sampah berserakan.

Kemudian ia berfikir untuk menciptakan tempat sampah utama di belakang sekolah.

Namun, karena beberapa hal, terutama biaya, pembuatan tempat sampah utama tersebut urung dilaksanakan.

Kemudian timbul di pemikiran para guru untuk membuat program ‘Sampahku Tanggungjawabku’.

SD Negeri Kroyokulon kemudian memutuskan untuk meniadakan pengadaan tempat sampah di sekolah.

Sekolah meminta anak-anak untuk lebih fokus mengelola sampah dan tidak membuang sampah sembarangan ke tempat sampah.

“Program ini kita mulai sejak Januari 2025, meskipun sebenarnya program pengurangan sampah plastik sudah dilaksanakan sejak tahun 2024,” kata Widaryati saat dihubungi melalui telepon, Selasa (25/2/2025).

“Program ini mewajibkan anak-anak untuk mengelola sampah mereka sendiri,” tambah Widaryati.

Untuk mendukung program ini, sekolah menyarankan dan meminta anak-anak di SD Negeri Kroyokulon untuk membawa alat makan seperti mangkok, piring, dan gelas.

Barang-barang tersebut disimpan di kelas masing-masing, dan sekolah menyediakan rak piring.

“Anak-anak yang membeli makanan seperti bakso atau gorengan tidak lagi menggunakan plastik, melainkan menggunakan alat makan yang mereka bawa,” kata Widaryati.

Kepala sekolah menyebut, seluruh siswa merespons kebijakan itu dengan sangat antusias, mereka tanggung jawab dengan komitmen mereka untuk mengelola sampahnya sendiri.

 

Ajak Kerja Sama Pihak Lain

Pihak sekolah juga bekerjasama dengan pemerintah desa, komite, untuk mengawasi anak- anak agar tidak membuang sampah di pinggir jalan atau membuang sampah sembarangan saat pulang sekolah.

“Kalau itu dilanggar berarti Itu namanya tidak mengelola sampah tapi hanya memindahkan sampah,” terangnya.

Diungkapkan, ide itu muncul hanya dari pemikiran kepala sekolah dan guru yang kemudian disampaikan kepada siswa, lalu disampaikan ke komite, dan juga bekerjasama dengan penjual yang ada di lingkungan SD Negeri Kroyo Kulon.

“Dan kemarin kegiatan P5 kita ada tema Memilih Gaya Hidup Berkelanjutan, yaitu dengan mengelola sampah yang dibuat menjadi barang yang bermanfaat, seperti menjadi tempat minuman mineral, menjadi vas bunga, lalu plastik kresek dibuat menjadi bunga dan lain sebagainya,” kata Kepala Sekolah.

Disebutkan SD Negeri Kroyokulon memiliki siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan jumlah 73 siswa.

Dan ia berharap dengan kegiatan pengelolaan sampah ini bisa mewujudkan lingkungan sekolah menjadi bersih dan tertata.

“Kebiasaan ini tidak hanya di lingkungan sekolah saja namun diterapkan ke sekeliling sekolah dan di rumah masing-masing agar bisa menjadi percontohan,” tutup Widaryati.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *