JAKARTA, liputanbangsa.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memaparkan analisis gempa magnitudo 6,9 di Maroko, Sabtu (9/9).
Menurut BMKG, gempa pada pukul 05.10 WIB itu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah negara Maroko.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut gempa tersebut merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar aktif di Zona Pegunungan Atlas, Maroko.
Episenter gempa ini terletak pada koordinat 31.01° lintang utara dan 8.46° bujur barat, tepatnya di darat dengan kedalaman hiposenter sangat dangkal, yakni pada 28 kilometer.
“Gempa berkekuatan Mw6,9 ini merupakan gempa utama (mainshock) dan yang terbesar dalam catatan sejarah yang pernah terjadi di Maroko. Laporan terkini menunjukkan bahwa gempa tersebut menimbulkan kerusakan dengan korban jiwa meninggal,” kata Daryono dalam keterangannya disiarkan di Jakarta, Sabtu.
Baca Juga :
Korban Gempa Maroko Tembus 820 Orang – Liputan Online Indonesia
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kata dia, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar aktif di Zona Pegunungan Atlas, Maroko.
Morfologi jalur pegunungan ini berarah Baratdaya-Timurlaut, dari Agadir hingga Aït Ahmadou Haddou, Maroko.
Hasil analisis mekanisme sumber yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa gempa yang terjadi memiliki mekanisme sumber pergerakan naik (thrust fault) yang mencerminkan adanya gaya tekan (compressional) yang terjadi pada zona tektonik sumber gempa tersebut.
“Gempa ini terjadi di wilayah jalur sumber gempa sesar aktif yang sudah terpetakan, namun demikian zona ini dikenal dengan riwayat kegempaan yang relatif rendah,” ujar Daryono.
Gempa tersebut berdampak sangat merusak mencapai skala intensitas VII-IX MMI hingga menimbulkan kerusakan dan korban jiwa meninggal di Kota Tua Marrakesh yang merupakan kota terbesar keempat di Maroko, salah satu pusat populasi paling besar.
Marrakesh mengalami kerusakan paling parah karena dekat sumber gempa ditambah dengan keberadaan bangunan-bangunan tua yang rentan runtuh akibat guncangan gempa karena kondisi strukturnya yang sudah lemah.
(ar/lb)

