UNGARAN, liputanbangsa.com – Tetapkan target hingga 1,5 juta kunjungan wisatawan, Kampoeng Kopi Banaran di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, akan menambah dan mengembangkan sejumlah fasilitasnya.
Kampoeng Kopi Banaran menawarkan beragam fasilitas dan daya tarik, antara lain area berkemah dan tempat ngopi dengan pemandangan tujuh pegunungan serta Rawa Pening.
Project Director PT Dyandra Banaran Nusantara (DBN), Muh. Alwi Mubarok Alaydrus mengatakan, “Tentu untuk mencapai target tersebut, Kampoeng Kopi Banaran butuh wajah baru, terutama untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri tahun ini,” ujarnya usai Groundbreaking Tahap 1 New Kampoeng Kopi Banaran. Jumat (17/2).

Alwi sedang mempersiapkan rencana pengembangan di tahun ini karena Kampoeng Kopi Banaran dinilai memiliki potensi besar dalam pariwisata dan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions).
“Maka dari itu kami memersiapkan rencana pengembangan di 2023 ini, kami memulainya dengan empat fasilitas utama,” tutur Alwi.
Pada pengembangan fasilitas tersebut membutuhkan investasi sebesar Rp500 miliar. Meliputi area parkir yang mampu menampung 5.000 kendaraan dan pembangunan masjid seluas 30 x 40 meter yang mampu menampung 1.200 jemaah.
Selain itu, dilakukan pula relokasi dan revitalisasi Banaran 9 Resto, hingga alih fungsi ruang meeting Excelsa menjadi bangunan restoran baru.
“Selain itu area lapangan tenis akan dialihfungsikan menjadi lapangan mini soccer (sepak bola mini),” katanya.

Alwi menambahkan, pengembangan tersebut merupakan suatu kewajiban untuk peningkatan fasilitas. “Sebelumnya kapasitas parkir hanya 200, nanti mencapai 5.000. Pembangunan lapangan mini soccer juga bertujuan menarik minat komunitas penggemar sepak bola di Kota dan Kabupaten Semarang, serta Salatiga,” jelasnya.
Frina Bonita selaku General Manager Kampoeng Kopi Banaran mengatakan, untuk memberikan pelayanan kepada pengenjung maka dilakukanlah pembenahan dan pengembangan. “Konsepnya olahraga, religi, dan wisata alam menjadi satu. Apalagi Kabupaten Semarang ini merupakan wilayah yang strategis, termasuk dengan nantinya operasional Tol Yogya-Bawen,” ucap Frina.
Sementara itu, pengembangan tersebut diapresiasi oleh Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kabupaten Semarang, Heru Subroto karena termasuk dalam membangun sebuah masjid yang terintegrasi di dalam kawasan wisata.
“Fasilitas ibadah sudah menjadi kebutuhan, namun masih banyak pengelola destinasi wisata di Kabupaten Semarang yang belum menyiapkan fasilitas ibadah ini secara representatif di kawasan yang dikelolanya,” jelasnya. (afifah/lbi)

