liputanbangsa.com – Jerman menahan operasi penyelamatan gempa Turki yang dilakukan oleh Tim Pencarian dan Penyelamatan Internasional Jerman (ISAR) dan Badan Federal untuk Bantuan Teknis (THW) pada Sabtu (11/2). Penghentian sementara tersebut karena alasan keamanan dan adanya aduan tindak penggunaan senjata akibat bentrokan antarkelompok.
Dua organisasi penyelamatan Jerman, ISAR dan THW mengatakan akan memulai kerja mereka setelah mendapatkan klarifikasi situasi aman oleh badan perlindungan sipil Turki (AFAD).
“Anda dapat melihat bahwa kesedihan perlahan berubah menjadi kemarahan. Oleh karena itu kami akan tetap berada di kamp bersama dengan THW untuk saat ini,” kata Manajer Operasi ISAR Steven Bayer kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa organisasi akan segera siap membantu jika ada indikasi para penyintas.
Presiden Tayyip Erdogan mengomentari situasi keamanan secara umum dengan menyebutkan Turki alami keadaan darurat dan telah terjadi penjarahan. Namun, otoritas Turki belum melaporkan bentrokan yang terjadi di wilayah yang terkena gempa.
“Ini berarti bahwa, mulai dari sekarang, orang-orang yang terlibat dalam penjarahan atau penculikan harus tahu bahwa kendali negara ada pada mereka,” katanya dalam kunjungan ke wilayah itu.
Sementara itu, Unit Bantuan Bencana Pasukan Austria (AFDRU) yang sempat menghentikan operasi mereka, kini sudah memulai kembali ketika mendengar Turki telah mengambil alih perlindungan kontingen AFDRU dari cuitan juru bicara Kementerian Pertahanan Michael Bauer.
Pasukan bersenjata Austria berjumlah 82 petugas telah menyelamatkan 9 orang dari puing-puing sejak berada di Antakya, Turki, 7 Februari lalu.
Saat ini Swiss sedang mengawasi situasi keamanan di Hatay dengan Ketat dan meningkatkan langkah keamanan. 87 spesialis dan 8 anjing telah dikerahkan Swiss untuk membantu tindakan penyelamatan. Hingga saat ini 11 orang, termasuk dua bayi berhasil diselamatkan sejak tiba pada Selasa. 12 anggota dari tim tambahan telah dikirim Jumat. (afifah/lbi)

