Makassar, liputanbangsa.com – Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar yang meninggal saat diksar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) saat ini sudah menjalani proses autopsi. Polisi mengungkap korban Virendy Marjefy (19), dikarenakan adanya pendarahan jantung sehingga korban meninggal dunia.
“Kalau hasil autopsinya itu meninggal dunianya karena adanya pendarahan di jantung itu,” ujar Kanit Pidum Satreskrim Polres Maros Ipda Wawan Hartawan.
Wawan mengatakan organ korban mengalami kelainan. Dia menyebut ada penyumbatan aliran darah ke jantung korban dan itulah yang menjadi penyebab kematian mahasiswa Unhas ini.
“Di situ kalau hasil temuan itu memang ada beberapa kelainan di beberapa organ tubuhnya si korban. Kalau kesimpulan kematiannya itu tadi akibat adanya penyumbatan darah ke jantung,” kata Ipda Wawan.
Lebih lanjut, Wawan juga mengungkap korban menderita sejumlah luka. Namun polisi masih mendalami penyebab luka di tubuh korban dan belum menjelaskan lebih jauh apakah luka-luka itu diakibatkan kekerasan saat Diksar Mapala atau karena faktor lainnya.
“Yang kedua terdapat beberapa luka-luka. Ada lecet-lecet mungkin di ini, di bagian-bagian kakinya kemudian ada di pahanya, di punggung belakang juga ada, di kepala ada,” katanya.
Atas temuan dari hasil autopsi, ayah korban James Wehantouw yang mencurigai jika adanya tindak kekerasan yang dialami anaknya. Dia menyebut ada sejumlah percakapan chat Virendy yang curhat tentang kekerasan.
“Dia baku chat sama temannya di handphone-nya dia (Virendy) bilang untungnya dia pake kaca mata jadi tappe’-nya (tempeleng) senior tidak ke arah mata,” kata James.
Kendati demikian, tidak diketahui kapan terjadinya kekerasan tersebut. Namun James mengatakan curhatan anaknya terkait perlakuan senior yang kemudian diceritakan kepada teman kampusnya. Dan bukti chat telah diserahkan kepada pihak kepolisian.
“Banyak itu di handphone-nya, tapi saya tidak tahu persis itu karena anak saya (kakak Virendy) yang kasih screenshot-nya ke penyidik Polres Maros,” kata James.
Menanggapai insiden tersebut pihak Mapala Teknik Unhas bantah tindak kekerasan itu. Ketua Mapala Fakultas Teknik Unhas Ibrahim menegaskan diksar merupakan bentuk pendidikan sehingga tidak ada tindak kekerasan di dalamnya.
“Yang pertama ini kegiatan pendidikan dasar ini kita bukan kali pertama kita lakukan ini sudah 27 kali sampai yang kemarin dan dari kami sangat terpukul dengan kondisi kemarin kondisinya itu bukan kita yang minta tidak diinginkan oleh siapapun,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menjamin tidak terjadi kontak fisik saat proses diksar itu berlangsung di Maros, sejak hari Senin hingga hari Jumat. Mereka hanya melakukan pembinaan sebelum Diksar itu berlangsung dengan membekali persiapan materi maupun latihan.
“Kalau dari pihak panitia tidak ada sama sekali kekerasan kontak fisik yang ada kita hanya melatih fisiknya untuk bagaimana dia caranya bisa disiplin dan lain-lain. Ini sebelum perjalanan kan ada persiapan mulai dari jogging, bina materi, latihan simulasi renang dan lain-lain,” pungkas Ibrahim.
(heru/lbi)

