JAKARTA, liputanbangsa.com – Presiden Jokowi bersama sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju bertemu Presiden China Xi Jinping, di Beijing, China, Selasa (17/10).
Pertemuan ini dalam rangkaian kunjungan kerja Presiden Jokowi ke China pada 16-18 Oktober 2023.
Salah satu menteri yang ikut mendampingi Presiden Jokowi adalah Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan.
Usai pertemuan bilateral tersebut, Mendag yang akrab disapa Zulhas membeberkan kedua negara menyepakati peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi.
“Ada penandatanganan sepuluh kerja sama investasi di berbagai bidang antara lain pertahanan, mobil listrik, ketahanan energi, dan kerja sama pembangunan desa serta pengentasan kemiskinan,” ujar Mendag Zulhas dalam keterangannya, dikutip pada Rabu (18/10).
Masih dalam pertemuan tersebut, lanjut Zulhas, Presiden Jokowi mengangkat empat hal.
Antara lain, mengenai upaya peningkatan kerja sama investasi, terutama untuk baterai kendaraan listrik dan otomotif, pabrik suku cadang, kilang petrokimia, produksi baja, serta pengembangan kerja sama Halal Center.
Selain itu, Presiden Jokowi juga mendorong tindak lanjut kerja sama pengembangan koridor ekonomi “Two Countries, Twin Parks”.
Terkait perdagangan dan keuangan, Presiden Jokowi menyampaikan apresiasi terhadap perdagangan bilateral yang terus tumbuh dan seimbang, serta mengharapkan dukungan China untuk ekspor produk-produk unggulan Indonesia seperti sarang burung walet, produk perikanan, pertanian, dan buah-buahan tropis.
Untuk kerja sama keuangan, Presiden Jokowi menyampaikan dukungannya terhadap rencana pembentukan local currency transaction melalui QR cross border untuk memfasilitasi ekspor-impor dan investasi.
Presiden Jokowi berharap dukungan China untuk mengimplementasikan kerja sama kelistrikan kolaborasi RI-China.
Mengingat ketahanan energi merupakan bidang kerja sama yang dapat terus diperkuat antara kedua negara seiring akselerasi penambahan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sebesar 60 GW di Indonesia hingga 2040 mendatang.
Presiden Jokowi juga mendorong peningkatan wisatawan kedua negara yang dapat dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari penambahan frekuensi penerbangan langsung ke China hingga peningkatan beasiswa dan pelatihan vokasi bagi mahasiswa Indonesia.
Mendag Zulhas juga menyampaikan, kunjungan kerja Presiden ke China kali ini berhasil meningkatkan kerja sama kedua negara.
Salah satunya terkait besarnya potensi transaksi pada acara Forum Bisnis Indonesia-China yang dilaksanakan pada Senin (16/10).
“Saya menilai, kunjungan ke Tiongkok cukup sukses, salah satunya dengan menghasilkan kesepakatan dagang antara pelaku usaha kedua negara. Termasuk pada Forum Bisnis yang menghasilkan potensi perdagangan hampir USD 13 miliar yang ditandatangani pelaku usaha kedua negara,” imbuh menteri yang juga Ketua Umum PAN.
Perjuangkan Ekspor Produk Pertanian ke China

Pada hari yang sama, Zulhas juga mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan dengan Perdana Menteri China Li Qiang di Diaoyutai State House, Beijing, China.
“Dalam pertemuan tersebut, Presiden memperjuangkan hasil pertanian petani Indonesia, seperti durian, alpukat, melon, dan kelapa agar bisa segera ekspor ke Tiongkok,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi juga didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri BUMN selaku Ad Interim Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Erick Thohir, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, serta Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun.
Perdagangan Indonesia-China mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 17,69 persen dalam lima tahun terakhir (2018-2022).
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada periode Januari-Agustus 2023, total perdagangan kedua negara mencapai nilai USD 83,1 miliar dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD 545,3 juta yang disumbang dari ekspor senilai USD 41,82 miliar dan impor senilai USD 41,28 miliar.
Pada tahun 2022, total perdagangan Indonesia-Tiongkok tercatat USD 133,56 miliar, meningkat 21,51 persen dari nilai perdagangan tahun 2021 sebesar USD 109,9 miliar, dengan ekspor senilai USD 65,84 miliar dan impor senilai USD 67,72 miliar.
(ar/lb)

