liputanbangsa.com – Saham Tupperware anjlok hingga 50% per Senin (10/4). Bahkan dalam setahun terakhir, saham perusahaan wadah penyimpanan itu menyusut sekitar 90%.
Penyebab ancaman kebangkrutan ini muncul karena perusahaan yang telah beroperasi selama 77 tahun ini mengalami kesulitan untuk bersaing selama beberapa tahun terakhir bahkan Tupperware berusaha memasuki pangsa pasar anak muda.
Namun, langkah rebranding itu dinilai belum berhasil, sehingga menjadi salah satu penyebab kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan. Selain itu, terdapat sejumlah faktor lain yang menekan kinerja Tupperware, seperti berkurangnya jumlah penjualan secara signifikan dan berkurangnya minat masyarakat terhadap produk rumahan.

CEO Tupperware Miguel Fernandez menyebut perusahaannya telah memulai perjalanan sejak lama. Dia sedang berusaha untuk menangani masalah likuiditas perusahaan dengan mencari suntikan modal untuk operasional perusahaan.
“Kini perusahaan sedang mencari cara untuk mengurangi tekanan yang terjadi saat ini. Kami akan menempuh pencarian pembiayaan untuk memperbaiki posisi keuangan kami,” ungkapnya.
Tupperware mengakui, tanpa adanya pinjaman pembiayaan baru, maka perusahaan tidak akan mampu mendukung operasionalnya.
Imbasnya, Tupperware bahkan mempertimbangkan opsi perampingan karyawan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sedang meninjau aset propertinya sebagai cara efisiensi.
Lebih parahnya lagi, saham Tupperware bisa dihapus oleh New York Stock Exchange karena tak mengajukan laporan tahunan wajib.
Analis Ritel dan Direktur Pelaksana Global Data Retail, Neil Saunders mengungkapkan kini Tupperware sedang berada di ujung tanduk. Mereka berusaha untuk meningkatkan penjualan. Namun karena aset yang dimiliki tak seberapa, Tupperware kini tak memiliki kapasitas besar untuk mengumpulkan uang.
“Perusahaan ini dulunya adalah pusat inovasi untuk peralatan dapur, tapi sekarang keunggulannya hilang,” jelasnya.
(heru/lbi)

