Ada 2 Lagi Kader PSI yang Mundur Usai Pertemuan dengan Prabowo – Liputan Online Indonesia

JAKARTA, liputanbangsa.comDewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) angkat suara ihwal sejumlah kader mundur setelah partai tersebut menerima kunjungan dan membuka komunikasi dengan Prabowo Subianto.

Juru Bicara PSI Sigit Widodo mengaku menghormati keputusan politik setiap kader. Namun, dia menegaskan hingga kini belum ada keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait daftar caleg sementara (DCS).

“Tentu saja PSI menghormati pilihan politik semua bacaleg yang sebetulnya bahkan belum ditetapkan dalam Daftar Calon Sementara (DCS) oleh KPU,” kata Sigit pada Senin (7/8).

Di sisi lain, dia menganggap keputusan sejumlah kader yang mundur juga tak beralasan.

Sebab, ucap Sigit, PSI hingga kini belum menentukan arah dukungan kepada bakal capres tertentu.

Menurut dia, kunjungan Prabowo ke kantor partainya pada Rabu (2/8) lalu, hanya silaturahmi biasa. Sama halnya saat Prabowo bertemu dengan Ketua DPP PDIP, Puan Maharani.

“Menurut saya tidak ada alasan untuk mundur karena pertemuan 2 Agustus kemarin hanya silaturahmi politik biasa antar-parpol pendukung Pak Jokowi dan tidak bicara pencapresan,” kata dia.

Menurut Sigit, pertemuan antara partai sesama pendukung Jokowi sebagai hal yang lumrah. PSI hingga kini masih menunggu instruksi Presiden Jokowi soal arah dukungan partai.

“Saat ini PSI belum melakukan finalisasi dukungan pada salah satu capres. Kami masih menunggu arahan Pak Jokowi,” kata Sigit.

Dua bakal caleg dari PSI mengumumkan pengunduran dirinya dari proses pencalegan sekaligus sebagai kader.

Keduanya, Dwi Kundoyo dan Estugraha alias Egha mundur karena menganggap partainya telah bermain mata saat didatangi Prabowo Subianto 2 Agustus lalu.

Dwi dan Egha mengaku akan terus menolak dan menentang Prabowo Subianto sebagai capres.

Dwi dan Egha menyusul langkah Guntur Romli yang telah lebih dulu mengumumkan mundur sehari sebelumnya.

Ketiganya diketahui merupakan pendiri kelompok relawan Ganjarian Spartan yang mendukung Ganjar Pranowo sebagai bakal capres 2024.

Dwi menceritakan penolakannya kepada Prabowo tidak ia lakukan semata-mata karena Prabowo adalah lawan Ganjar dalam Pilpres 2024, tapi sudah ia lakukan sejak masih menjadi mahasiswa tahun 1992 lalu.

“Penolakan saya terhadap Prabowo Subianto sudah saya mulai sejak menjadi anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) tahun 1992. Saat itu, bersama kawan-kawan seperjuangan tidak henti-henti menyuarakan keadilan, kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Dwi.

Sebelumnya, Prabowo silaturahmi ke DPP PSI 2 Agustus 2023 lalu.

Kedatangannya saat itu langsung disambut oleh Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie dan Raja Juli, serta Ketum PSI Giring Ganesha.

Pertemuan itu menimbulkan beberapa spekulasi soal arah dukungan PSI yang disebut sejalan dengan arah Jokowi dalam Pilpres 2024.

PSI selama ini konsisten dengan slogan Tegak Lurus Bersama Jokowi, pertemuan ini pun dianggap merepresentasikan dukungan Jokowi yang dinilai lebih condong memihak Prabowo ketimbang Ganjar.

Padahal jauh sebelum Ganjar dideklarasikan sebagai capres PDIP, PSI sudah lebih dulu mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan Ganjar dan Yenny Wahid.

(ar/lb)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *