Apa Makna Natal yang Sesungguhnya? Umat Kristiani Harus Tau – Liputan Online Indonesia

liputanbangsa.comSetiap tahun umat kristiani merayakan natal pada 25 Desember. Tapi apakah kamu tau makna Natal sesungguhnya?

Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati kelahiran Sang Juru Selamat, Yesus Kristus.

Tahun 2023 ini, Natal jatuh pada hari Senin. Adapun ibadah dalam perayaan Natal akan dimulai pada tanggal 24 Desember (malam Natal) dan mencapai puncaknya pada tanggal 25 Desember.

Berikut ini macam-macam makna Natal sesungguhnya, yang tidak boleh dilupakan umat Kristiani.

 

Pengertian Natal

Mengutip pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Natal berarti (1) kelahiran seseorang atau (2) kelahiran Isa Almasih (Yesus Kristus) dan merupakan hari raya untuk memperingati kelahiran Isa Almasih.

Kata Natal berasal dari bahasa Latin yang berarti “lahir” sebagaimana dikutip dari skripsi berjudul “Kelahiran Isa sebagai Penempatan Hari Raya Nasrani Perspektif Al-Quran dan Al-Kitab” oleh Aida Rif’atul Ukhrowiyah.

Berikut ini makna Natal sesungguhnya dilansir dari laman Rubrikkristen.

1. Natal adalah Sukacita Besar

Makna natal sesungguhnya yang lainnya adalah sukacita besar.

Peristiwa Natal lebih dari 2000 tahun yang lalu, adalah kabar sukacita bagi manusia.

Malaikat mengatakan kepada para gembala di padang Betlehem bahwa ia membawa kabar baik yang merupakan kesukaan besar (Lukas 2:10).

Mengapa Natal merupakan sukacita besar?

Sebab, manusia yang sedang terbelenggu oleh dosa akan diselamatkan oleh seorang Juru Selamat yang baru lahir, Yesus Kristus, serta memberikan kita hidup yang kekal.

Itulah sebabnya para bala tentara sorga yang bersukacita dengan nyanyian/puji-pujian mereka saat peristiwa natal (Lukas 2:13-14).

Selain para malaikat, orang-orang yang mengalami mukjizat Natal juga bersukacita dalam peristiwa Natal serta bersyukur kepada Allah.

 

2. Natal adalah Universalitas

Makna natal yang sesungguhnya yang keempat adalah universalitas.

Natal adalah bagi semua orang dari segala bangsa.

Hal ini tampak dari pemberitahuan malaikat kepada para gembala di padang Efrata. Malaikat tersebut mengatakan bahwa kabar yang dibawanya ditujukan bagi segala bangsa (Lukas 2:10).

Hal ini juga tampak dari kedatangan para majus dari Timur, yang jelas bukan orang Israel.

Mereka datang dari negerinya untuk menyembah Juru Selamat yang baru lahir.

Mereka datang bukan atas inisiatif mereka sendiri, tetapi karena dituntun oleh Allah sendiri lewat sebuah bintang di langit.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah memaksudkan Natal untuk segala bangsa, termasuk orang-orang majus dari Timur ini.

Jadi, Natal ditujukan bukan hanya kepada orang Israel saja, sebagai umat plihan Tuhan, tetapi kepada semua bangsa di bumi (Lukas 2:30-32).

 

3. Natal adalah Kemenangan

Makna natal sesungguhnya yang berikutnya adalah kemenangan.

Melalui kelahiran Tuhan Yesus maka kesudahan iblis dan kejahatan makin dekat.

Manusia telah dibebaskan dari dosa. Kemenangan telah tiba bagi manusia.

Melalui peristiwa Natal orang berdosa telah menang, kuasa iblis telah dihancurkan.

Melalui Natal, Allah telah melawat umat-Nya, dan memberikan kemenangan dan keadilan bagi mereka (Lukas 1:50-54).

 

4. Natal adalah Solidaritas

Makna natal yang sesungguhnya yang kedua adalah solidaritas.

Anak Allah yang kudus rela datang ke dunia dan menjadi sama seperti manusia.

Dia adalah Allah, yang pada hakikatnya setara dengan Allah Bapa, tetapi Ia rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang manusia/hamba agar bisa mati bagi dosa-dosa dunia (Filipi 2:5-8).

 

5. Natal adalah Pengorbanan

Makna natal yang sesungguhnya yang pertama adalah pengorbanan.

Karena kasih-Nya kepada manusia yang berdosa, Allah rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, agar manusia terbebas dari dosa (Yohanes 3:16).

Manusia yang telah jatuh dalam dosa seharusnya akan mati menanggung dosa-dosanya, tetapi Allah yang pengasih dan penyayang rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk mati menggantikan kita.

Allah berkorban dalam peristiwa Natal. Demikian juga dengan orang-orang pada peristiwa Natal, mereka juga turut berkorban.

Para majus mengorbankan persembahan-persembahan mereka: emas, perak, dan mur (Matius 2:11), sebagai “kado Natal” terindah mereka kepada bayi Yesus.

Juga Yusuf dan Maria harus berkorban di hari Natal. Maria dan Yusuf harus mengorbankan perasaan mereka untuk menerima bayi Yesus yang bukan anak mereka sendiri, dan ketika mereka masih belum resmi berstatus sebagai suami istri.

 

6. Natal adalah Kesederhanaan

Makna natal yang sesungguhnya yang ketiga adalah kesederhanaan. Anak Allah yang kudus lahir bukan di ibu kota Israel, Yerusalem, atau di ibu kota kekaisaran Romawi, Roma, melainkan di kota kecil Betlehem (Lukas 2:4-6).

Dia juga tidak lahir di istana, tetapi di dalam palungan atau tempat makan ternak (Lukas 2:7).

Tidak juga di dalam keluarga raja atau bangsawan yang terhormat, juga tidak di dalam keluarga orang kaya, tetapi di dalam keluarga tukang kayu yang sederhana, Yusuf dan Maria.

Jika Dia mau, sebenarnya Ia bisa saja memilih lahir di kota besar saat itu, seperti Yerusalem atau Roma, atau lahir di keluarga kaya atau bangsawan, bukan di dalam keluarga tukang kayu yang sederhana.

Ia tidak melakukannya. Ia lahir dan hidup secara sederhana. Kelahiran-Nya pun diberitakan bukan kepada para raja, nabi atau orang besar, melainkan kepada para gembala domba yang sederhana (Lukas 2:8-12).

Kita patut merayakan natal secara sederhana, bukan dengan kemewahan, sebab peristiwa natal yang pertama pun sangat sederhana.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *