JAKARTA, liputanbangsa.com – Sekitar 50 massa yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (30/1/2025).
Mereka menggelar aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes terhadap kasus penembakan buruh migran Indonesia di Malaysia.
Di lokasi pukul 10.40 WIB, puluhan pendemo gabungan ini mulai mendatangi Kedubes Malaysia.
Mereka membentangkan spanduk yang berisi tuntutan terkait kasus penembakan buruh migran Indonesia di Malaysia.
Sejumlah tuntutan yang mereka sampaikan di antaranya Adili dan Penjarakan Polisi yang Menembak Mati Buruh Migran Indonesia.
Serta, Ganyang Malaysia – Bebaskan Buruh Migran Indonesia.

Tak hanya itu, mereka juga menuntut Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding beserta Wamen Christina Aryani untuk mundur dari jabatannya.
Diketahui, aksi ini merupakan bentuk solidaritas terhadap buruh migran Indonesia yang menjadi korban ketidakadilan dan sekaligus desakan agar pemerintah bertindak tegas dalam melindungi hak-hak pekerja migran.
Sementara, ratusan personel kepolisian terlihat telah berjaga di depan kedubes Malaysia.
Dua mobil taktis water cannon milik Brimob juga terlihat terparkir di halaman depan Kedubes Malaysia.
Mobil pembawa kawat berduri juga disiagakan di depan kantor Kedubes.
Arus lalu lintas di depan Kebubes Malaysia terpantau masih lancar, yang dari arah Mampang menuju Menteng.
Sebelumnya diberitakan, Desakan untuk mengusut tuntas penembakan 5 pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia terus mencuat.
Insiden yang terjadi di perairan Tanjung Rhu, Selangor, Malaysia pada Jumat (24/1/2025) dini hari tersebut mengakibatkan satu korban jiwa dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Menurut penyelidikan awal otoritas Malaysia, penembakan itu terjadi setelah kapal patroli Badan Penegakan Maritim Malaysia ditabrak empat kali oleh kapal lain, yang diduga milik para pekerja migran.
Namun pernyataan itu dibantah dua korban yang berinisial HA dan MZ yang berasal dari Riau.
Menurut penyelidikan awal otoritas Malaysia, penembakan itu terjadi setelah kapal patroli Badan Penegakan Maritim Malaysia ditabrak empat kali oleh kapal lain, yang diduga milik para pekerja migran.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI, Judha Nugraha, mereka dan warga negara Indonesia (WNI) lainnya tidak melakukan perlawanan dengan senjata tajam sebagaimana dinarasikan otoritas Malaysia.
“Keduanya juga menjelaskan kronologis kejadian dan menyatakan tidak ada perlawanan dengan senjata tajam dari penumpang WNI terhadap aparat APMM,” kata Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI, Judha Nugraha kepada wartawan, Rabu (29/1/2025).
(ar/lb)

