liputanbangsa.com – Salah satu film Indonesia yang akan tayang di bioskop Indonesia pekan ini, yakni Lorong Kost.
Film horor yang dibintangi Gibran Marten, Yatti Surachman, hingga Nadira Hill ini tayang mulai hari ini, Kamis, 26 Juni 2025.
Film garapan sutradara Ganank Dera melalui rumah produksi Minka Rosie Production ini memberi sentuhan rasa takut melalui pendekatan psikologis, bukan jump scare yang menakutkan.
Ganank menyebut bahwa film Lorong Kost akan mengeksplorasi ketakutan yang berasal dari diri manusia, seperti ketakutan akan trauma, kesendirian, hingga tekanan hidup.
Lantas, seperti apa alur cerita dan fakta-fakta menarik lainnya terkait film Lorong Kost? Simak ulasannya berikut ini.
Sinopsis Lorong Kost
Film Lorong Kost mengisahkan tentang perempuan berusia 23 tahun bernama Tika yang terpaksa menempati sebuah kos-kosan murah karena kesulitan ekonomi.
Namun, belum ada seminggu di sana, Tika dikejutkan dengan kabar penghuni lain yang bunuh diri.
Sejak saat itu, tempat tinggal mereka berubah menjadi nereka karena gangguan gaib pun muncul bertubi-tubi dan berubah menjadi teror yang mengancam nyawa.
Bahkan, teror tersebut tak hanya sekadar menghantui kos saja, namun juga mengikuti mereka ke mana saja.
Ketika satu per satu penghuni mulai kehilangan kendali dan bahkan nyawa, Tika harus memilih antara meninggalkan kos-kosan tersebut atau tetap menghadapi kebenaran yang mengancam nyawanya.

Bertabur Bintang Baru
Terdapat sejumlah bintang anyar dalam Lorong Kost. Sebut saja ada Larasati Zilly sebagai Tika, Aina sebagai Tania, dan Nadira Hill sebagai Ira.
Kehadiran mereka tentunya bukan tanpa alasan. Sutradara film Lorong Kost menyebut jika mereka sangat cocok memerankan karakter-karakter dalam film.
“Akhirnya kami cari pemain berdasarkan cocok tidaknya dengan karakter. Banyak pemain baru berbakat besar yang datang. Yang bikin kaget, tanpa banyak effort mereka bisa masuk ke peran. Artinya, banyak bakat baru di Indonesia yang menanti peluang tampil,” urai Ganank Dera.
Hotel yang Disulap Jadi Indekos
Syuting film Lorong Kost selama 16 hari di Bandung, Jawa Barat. Tim film Lorong Kost mengungkap jika bagian tersulit sebenarnya adalah saat mencari lokasi rumah indekos low budget yang pas untuk dijadikan lokasi syuting.
Setelah lama mencari tapi tak kunjung dapat, Ganank Dera dan tim menemukan sebuah hotel.
“Akhirnya kami menemukan hotel lawas, yang mau dijual, sudah tidak beroperasi namun masih dalam penjagaan. Tentu saja jauh dari ingar bingar kota. Kami memolesnya dan cocok untuk dijadikan lokasi syuting,” papar Ganank Dera.
Retake 30 Kali Gegara Tangan
Bagi Ganank, elemen penting dalam syuting film horor adalah meng-capture momen seram secara realistis termasuk reaksi tokoh saat melihat setan.
Biasanya, orang kalau melihat setan teriak lalu kabur. Bukannya memandangi setan dulu beberapa saat baru lari.
Ingin membuatnya menjadi serealistis mungkin, pengambilan gambar pun dikerjakan dengan teliti. Salah satunya, adegan yang disebut sebagai tangan Bayu.
“Salah satu yang tak terlupakan mengambil adegan pergerakan Bayu dan secara bersamaan muncul tangan gaib ‘mencolek’ tubuhnya. Gerakannya harus presisi. Gestur tangan Bayu harus pas dan sinkron. Itu retake sampai 30 kali,” beber Ganank Dera.
(ar/lb)

