KBPW Diskusikan Folklor Jadi Kearifan Jaga Lingkungan – Liputan Online Indonesia

ByWeb Support

25 Januari 2023

[ad_1]

KUDUS, liputanbangsa.com – Kearifan lokal dan tradisi tutur yang telah ada harus dijaga supaya tercipta keseimbangan antara kepentingan sosial, budaya dan lingkungan. Maka dari itu, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) mengadakan diskusi tapangeli dengan Riset Folklor Muria, beberapa waktu lalu.

Kegiatan tersebut berlangsung menarik dengan tema Rasan, Reksa, Resan. Dengan awal diskusi mengenai keresahan mulai hilangnya beberapa resan atau pohon besar yang ada dalam kultur jawa, yang sering disebut bregat.

Sejarawan asal Kudus yang juga menjabat sebagai Camat Jekulo, Agus Susanto memaparkan, beberapa klu terkait pendekatan struktural dan kultural dalam menjaga ekologi lingkungan. Menurutnya, banyak perubahan sosial masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku. Sehingga masyarakat lupa untuk hidup berdampingan dengan alam.

“Peradaban Muria dulu itu maju, banyak sumber daya yang perlu dijaga, bahkan sampai terkenal ke Eropa. Pendekatan struktural dan kultural ini penting untuk mengembalikan kondisi muria seperti semula,” ucapnya.

Dirinya melanjutkan, seperti bencana alam yang sering terjadi di Kudus, dikarenakan komunikasi antar pemangku kebijakan belum cocok. “Kita bicara gara-gara kerusakan hutan di Pemda, lalu sudah menemukan solusi misalnya, kalau tidak ada orang Perhutani akan tetap sia-sia. Begitu juga banjir, karena semua sungai yang ada itu kewenangannya pada pemerintah pusat,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Muria Research Center Indonesia, Mochamad Widjanarko mengamati daerah-daerah di Kudus yang rawan bencana alam. Pihaknya mendorong kepada masyarakat setempat, untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

“Masyarakat melalui kearifan lokal yang sudah dibangun perlu dirawat secara terus menerus. Sekaligus, harus sadar dan adaktif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya, sebagai bentuk antisipasi bencana yang mengancam. Yang menarik, mereka sudah mempunyai kapasitas untuk mengatasi bencana dengan kearifan lokal. Seperti tradisi berikan dan sedekah bumi, ini bisa jadi defense mekanisme,” ujarnya.

Sedangkan, penulis dan pemerhati lingkungan, Fawaz Al-Batawi menilai, ikatan sosial dan adat tradisional yang dibentuk masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai faktor penguat untuk melindungi kelestarian lingkungan. Setidaknya, mereka yang pertama tahu ketika terjadi tanda-tanda ada bencana atau kerusakan alam.

“Makanya, masyarakat ini disebut ujung tombak. Peran utama menjaga lingkungan ada di tangan masyarakat sekitar secara langsung. Pihak LSM, komunitas, CSR hanya bisa membantu dan mendorong,” terang penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin itu.

Fawaz kemudian berbagi pengalamannya, dalam memberdayakan masyarakat di kawasan Muria. Dengan menawarkan tiga upaya yang bisa diupayakan untuk menciptakan kesejahteraan bersama dan seimbang. Tiga faktor tersebut di antaranya usaha, tani, dan lestari.

Menurutnya, sesering apapun aktivis lingkungan menyerukan bahaya kerusakan lingkungan, kalau perut masyarakat kosong tetap tidak berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Maka, dunia usaha bagi masyarakat sekitar lereng itu harus aktif dulu. Pendekatannya bisa dengan cara memberikan mereka bibit tanaman yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

“Usaha itu faktor ekonomi, tani itu konteks sosialnya. Keduanya harus diperhatikan dan saling dikaitkan. Sehingga jika dua itu sudah selesai maka poin ketiga yakni lestari akan terwujud dengan sendirinya sebagai dampak positif,” pungkas staf Bakti Lingkungan Djarum Foundation ini.(sam)

[ad_2]
Beranda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *