Masjid Mirip Kabah di Sulbar Habiskan Biaya Rp 1,5 Miliar, Ini Sosok Pemiliknya

liputanbangsa.comPotret masjid mirip Kabah ini viral di media sosial.

Tak tanggung-tanggung, biaya untuk membangun masjid tersebut terhitung miliaran rupiah.

Masjid mirip Kabah tersebut ialah Masjid Nurul Azizil Hakim.

Masjid ini terletak di Kelurahan Rangas Timur, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Adapun masjid Nurul Azizil Hakim menjadi salah satu bangunan ikonik yang memukau dengan desainnya yang menyerupai Kabah di Majene.

Dari luar, Masjid Nurul Azizil Hakim tampak megah dengan dominasi warna hitam, mencerminkan kemegahan Kabah sebagai kiblat umat Islam.

Tidak hanya itu, terdapat ukiran kaligrafi, serta replika batu Hajar Aswad yang menambah kesan sakral dan mendalam pada bangunan ini.

Sebagai tambahan, pintu masjid yang terinspirasi dari pintu Kabah di Mekkah berwarna emas dan berkilau, menambah kemegahan yang begitu memikat.

 

Konsep Masjid

Masjid ini dibangun dengan konsep kubus, menyerupai Ka’bah, dengan panjang 12 meter dan lebar 9 meter.

Bagian dalam masjid tak kalah memukau, dengan hiasan ukiran kayu kaligrafi yang cantik serta lampu gantung kristal yang memperindah suasana.

Di dalam masjid juga terpasang tasbih berukuran raksasa, menambah kesan spiritual yang begitu kental.

Masjid Nurul Azizil Hakim memiliki dua lantai yang masing-masing diperuntukkan bagi jamaah pria di lantai pertama dan wanita di lantai kedua.

Dengan kapasitas sekitar 100 jamaah, masjid ini menawarkan kenyamanan dan ketenangan bagi para pengunjungnya.

Di bagian luar masjid, terdapat tempat istirahat yang nyaman bagi para tamu yang datang berkunjung.

Pembangunan masjid ini dimulai pada 9 November 2020, di tengah pandemi Covid-19, dan diresmikan pada 24 Agustus 2021 oleh Bupati Majene, Andi Achmad Syukri.

Proyek ini diprakarsai oleh keluarga Dr. H. Andi Zulkifli Atjo SH, seorang musisi senior Mandar sekaligus hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Pembangunan masjid ini memakan biaya sekitar Rp 1,5 miliar.

Pengurus Masjid, Hasbullah mengungkapkan, ide untuk membangun masjid ini muncul setelah Dr. Andi Zulkifli Atjo melakukan perjalanan ke tanah suci.

“Ketika beliau ke Mekkah bersama istrinya, mereka bertekad bahwa jika ada rezeki, mereka akan membangun masjid berbentuk Ka’bah,” ujar Hasbullah selepas shalat jumat di masjid tersebut, Jumat (28/3/2025).

 

Keunikan

Menurutnya selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi bagi anak sekolah dan masyarakat.

Keunikan bentuknya telah menarik banyak perhatian, sehingga semakin banyak warga yang datang untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Sebelumnya, masyarakat jarang melakukan shalat berjamaah karena masjid yang jauh.

Namun kini, dengan adanya Masjid Nurul Azizil Hakim, warga semakin rajin beribadah, sekaligus menikmati wisata religi yang ditawarkan.

“Semoga dengan adanya masjid yang unik ini, masyarakat semakin giat dalam beribadah,” kata Hasbullah yang juga berharap masjid ini dapat menjadi simbol kebangkitan spiritual bagi umat Islam di Majene.

Masjid mirip Kabah juga ada di Bandung.

 

Sosok di Baliknya

Di balik pembangunan masjid unik tersebut, ada kisah perjuangan pria lulusan SMP.

Sosok pria lulusan SMP itu bernama Dedi Al-Fikri.

Ia membangun masjid dengan bentuk dan ornamen kaligrafi serta replika hajar aswad yang didesain mirip seperti Kabah.

Masjid mirip Kabah bernama Masjid Al-Fikri ini terletak di Kampung Cikoneng, RT 02/15 Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.

Berada di pelosok yang jauh dari hingar bingar kota, Masjid Al-Fikri berdiri kokoh di atas lahan seluas 119 meter persegi.

Masjid Al-Fikri dibangun dengan ornamen-ornamen kaligrafi dan replika hajar aswad yang didesain mirip seperti aslinya.

Dedi Al-Fikri (46), seorang warga Kampung Cikoneng adalah penggagas masjid berbentuk Kabah tersebut.

Dilansir Jumat (7/4/2023), ia menceritakan bagaimana memulai mendesain dan mengumpulkan uang untuk membangun masjid.

Dedi Al-Fikri hanya seorang warga biasa yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SMP.

Namun ia mampu mendobrak stigma bahwa sekolah tinggi tak menjadi jaminan untuk ahli melakukan sesuatu.

“Masjid ini dibangun tahun 2022 kemarin,”

“Saya memang punya nazar pengin membangun masjid sebelum berangkat haji ke Makkah.”

“Saya ingat nazar itu dari usia SMP,” ungkap Dedi Al-Fikri saat ditemui, Kamis (6/4/2023).

Bukan hanya bualan belaka, keinginan Dedi Al-Fikri untuk membangun masjid itu berangkat dari keprihatinannya akan kondisi masjid.

“Dulu masjid ini berukuran kecil, kumuh, gak layak buat tempat ibadah,”

“Masjid ini perlahan diperbaiki sedikit demi sedikit menggunakan dana seadanya,”

“Setidaknya sudah 3 kali perbaikan,” ucap Dedi Al-Fikri.

Ia mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil usahanya sejak lama.

 

Latar Belakang

Dedi Al-Fikri sempat menjadi pembudidaya ikan gabus yang mampu mengekspor ke Jepang.

Menjadi petani yang berdikari, sampai menjajal dunia konveksi.

Setelah terkumpul cukup tabungan, Dedi Al-Fikri sempat dilema apakah harus mewujudkan nazarnya atau menyempurnakan rukun islam.

Sebagai lelaki sejati, Dedi Al-Fikri pantang ingkar pada janji yang sudah ia ucap.

“Saya kumpulkan dulu warga sekitar untuk menyampaikan rencana pemugaran masjid,”

“Kemudian saya tawarkan kepada warga yang mau ikut sedekah jariyah membangun masjid ini,” ungkap Dedi Al-Fikri.

Dedi Al-Fikri menyiapkan desain dan menyusun ornamen apa saja yang harus terpasang sehingga masjid ini dibuat mirip seperti Kabah.

Terdapat kaligrafi di bagian atas yang melingkar mengelilingi bangunan berbentuk persegi itu.

Kaligrafi itu memuat surat-surat yang terkandung dalam kitab suci Alquran.

Selain di bagian atas, terdapat pula replika daun pintu Kabah dengan kaligrafi yang memuat pesan sejarah rasul atau sirah nabawiyah.

“Kaligrafinya dikerjakan oleh santri lokal, mulai dari kaligrafi Al-Fatihah, salawat, sampai sejarah atau sirah nabawiyah,” tutur Dedi Al-Fikri.

Dedi Al-Fikri  tak hanya menyematkan ornamen-ornamen kaligrafi, ia juga membuat replika hajar aswad di sudut bangunan.

Hajar aswad itu dibuat semirip mungkin dengan bentuk aslinya.

“Masyarakat setidaknya jadi tahu bagaimana bentuk Kabah dan bagaimana hajar aswad. Desain masjid ini mengandung pesan, dan saya ingin berdakwah semampu saya,” kata Dedi  Al-Fikri.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *