SEMARANG, liputanbangsa.com – Fenomena tanda pagar alias tagar #KaburAjaDulu yang belakangan ini sedang tren di media sosial patut disikapi dengan langkah-langkah positif serta kebijakan yang lebih baik.
Apalagi, Jawa Tengah merupakan salah satu kantong Pekerja Imigran Indonesia (PMI) terbesar di Indonesia.
Wakil Ketua DPRD Jateng, Mohammad Saleh, menilai #KaburAjaDulu bukan sesuatu yang negatif.
Hal itu merupakan bagian dari ekspresi generasi muda atau masyarakat untuk mencari penghidupan lebih baik di luar negero.
“Semakin banyak masyarakat yang bekerja di luar negeri, maka akan semakin bertambah devisa negara. Secara tidak langsung itu akan mengurangi pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Mohammad Saleh.
Perlunya Dukungan

Lebih lanjut Mohammad Saleh yang juga Bendahara DPD Partai Golkar Jateng itu menyatakan fenomena masyarakat yang ingin mendapatkan penghidupan lebih baik di luar negeri tersebut harus didukung dengan memperkuat program-program penempatan dan pelindungan bagi PMI.
Adapun bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri, juga harus menyiapkan mental dan ketrampilan yang mumpuni.
Mereka harus mengikuti prosedur legal agar aman dan terlindungi. Mengingat saat ini masih banyak kasus penipuan dan perdagangan orang.
“Dengan adanya fenomena ini, pemerintah bisa membuka lebih luas lagi berbagai peluang kerja di luar negeri bagi WNI dengan keahlian. Selain itu juga memperbanyak program pelatihan yang bisa meningkatkan kualitas pekerja. Dengan demikian kita bisa mengirim lebih banyak tenaga kerja,” terang Mohammad Saleh.
Di Jawa Tengah sendiri, lanjut Mohammad Saleh, jumlah warga yang bekerja di luar negeri cukup banyak.
Berdasarkan catatan Disnakertrans pada tahun 2023, jumlah PMI asal Jateng mencapai 64.566 orang. Angka ini meningkat pada 2024 menjadi 66.611 orang.
Jumlah itu membuat Jateng merupakan kantong PMI terbanyak ketiga di Indonesia di bawah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur (Jatim).
Adapun negara tujuan paling diminati PMI asal Jateng adalah Hong Kong dengan 283.771 orang, Taiwan 266.149 orang, Malaysia 222.864 orang, Singapura 140.862 orang, Arab Saudi 59.785 orang, Korea Selatan 56.014 orang, dan Brunei Darussalam 22.337 orang.
Saat ini, negara-negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Austria, dan Polandia juga sudah mulai banyak membuka peluang kerja.
(ar/lb)

