liputanbangsa.com – Cegukan memang tidak berbahaya dan biasanya akan hilang dengan sendirinya, tetapi akan cukup menggangu jika alami cegukan terlalu lama.
Menahan napas, menggigit buah lemon, minum air, hingga merasa kaget, disebut-sebut dapat meredakan cegukan. Sayangnya, semua metode yang dianjurkan tersebut kurang efektif dalam menghentikan cegukan.
Menurut studi dari National Library of Medicine, pada dasarnya cegukan terjadi ketika aliran udara yang cepat dan tiba-tiba masuk ke paru-paru sehingga memunculkan suara “hik”.
Amy Shah, MD, dokter dan penulis medis bersertifikat mengatakan, “Cegukan adalah kejang diafragma yang tidak disengaja,” ujarnya.
“Cegukan menyebabkan pita suara menutup sangat singkat,” Imbuhnya.
Sementara itu, dokter besertifikat lainnya Jill Carnahan, MD mengatakan, beberapa tindakan yang menjadi penyebab cegukan ini dapat dihindari dengan kegiatan sebagai berikut:
- Makan berlebihan atau makan terlalu banyak
- Minum minuman berkarbonasi atau minuman panas terburu-buru
- Mengonsumsi alkohol berlebihan
- Menelan udara
- Menghirup udara dengan cepat
Namun, Shah memiliki pandangan yang berbeda dengan menyampaikan pernyataan bahwa metode paling efektif untuk menghilangkan cegukan adalah tidak melakukan apapun.
“Cegukan sering sembuh dengan sendirinya dan tidak memerlukan intervensi segera,” jelasnya.
Jika cegukan tak kunjung berhenti, dapat mempraktekan manuver valsava, yakni metode yang meningkatkan tekanan di dada dan dapat merangsang saraf vagus yang terhubung ke diafragma untuk menghentikan cegukan, menurut Carnahan.
Metode manuver valsava:
- Minum air dingin
- Tarik nafas dalam dengan perlahan, lalu keluarkan napas 3 kali dan ulangi setiap 20 menit
- Menekan hidung
- Berkumur menggunakan air dingin
- Memeriksa variabilitas detak jantung atau hearth rate variability (HRV) melalui smart watch.
Cegukan biasanya dapat berhenti dengan sendirinya. Namun, pada tahap akut durasi cegukan terjadi selama beberapa menit, hingga satu sampai dua jam.
Sedangkan, pada tahap persisten cegukan dapat berlangsung selama dua hari, dan tahap lanjut terjadi selama lebih dari satu bulan.
“Perawatan profesional harus didapatkan untuk gejala persisten yang berlangsung lebih dari 48 jam atau yang sering kambuh guna menyingkirkan penyebab yang mendasarinya,” ungkap Carnahan. (afifah/lbi)

