Sinopsis dan Review Film Pabrik Gula

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"source_ids":{},"source_ids_track":{},"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"square_fit":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

liputanbangsa.com – Pabrik Gula sukses mencuri perhatian penikmat film horor Indonesia di pekan pertama penayangannya di Bioskop yang berhasil mencapai penjualan tiket di angka 1 juta penonton.

Film ini diangkat dari Thread Horor viral SimpleMan di twitter sehingga menyedot banyak perhatian dan rasa penasaran penonton.

Namun ada beberapa hal yang membuat film ini seperti mengulang formula yang sama seperti kisah horor viral lainnya yaitu KKN di Desa Penari.

Ibarat istilah es teh manis dan sweet iced tea. 

KKN di Desa Penari dan Pabrik Gula adalah dua film beda judul, beda kemasan, beda tema, tapi punya formula yang sama.

 

Sinopsis Pabrik Gula

Film ini mengikuti perjalanan sekelompok pekerja musiman di sebuah pabrik gula yang terletak di pedesaan.

Mereka adalah Endah, Fadhil, Dwi, Hendra, Wati, Ningsih, dan Franky.

Setiap tahunnya, pabrik ini membuka lowongan kerja bagi warga sekitar untuk membantu proses penggilingan tebu selama musim panen.

Awalnya, pekerjaan mereka berjalan lancar tanpa ada kejadian aneh, tetapi semua berubah ketika sesuatu yang tak kasat mata mulai mengusik ketenangan mereka.

Suatu malam, Endah mengalami kejadian aneh. Ia terbangun secara tiba-tiba dan, seolah dikendalikan oleh kekuatan tak terlihat, meninggalkan tempat penginapannya untuk mengikuti sosok misterius.

Sejak kejadian itu, berbagai insiden mengerikan mulai menghantui para pekerja pabrik.

Teror yang mereka alami tidak main-main. Ada yang mengalami kecelakaan kerja secara misterius, ada pula yang meninggal secara tragis di sekitar sumur pabrik.

Ketakutan mulai menyelimuti para pekerja, terutama saat mereka menyadari bahwa kejadian-kejadian ini bukanlah kebetulan.

Dalam upaya mencari tahu penyebab dari semua kejadian mistis ini, para pekerja menemukan fakta mengejutkan: pabrik gula tersebut ternyata berdekatan dengan sebuah kerajaan iblis.

Keberadaan para pekerja di area tersebut telah membangkitkan amarah para makhluk gaib, dan kini mereka menuntut nyawa sebagai bayaran.

 

Review

Namun bukan berarti film ini masuk kategori film jelek, hanya saja pengulangan formula yang mirip ini membuat penonton menyayangkan template berulang yang diterapkan dibeberapa film horor menjadikan film jadi mudah ditebak.

Namun tentunya kesan “Film Mahal” memang sudah bisa dirasakan oleh penonton sejak menit pertama menyaksikan film Pabrik Gula.

Mulai dari visual yang gak kacang-kacang, set yang dibangung dengan niat, terpampang jelas bahwa film ini adalah film yang bermodal tidak sedikit dengan production value yang top notch.

Tapi yang disayangkan adalah, film Pabrik Gula seolah replicate/ expanding dari film KKN di Desa Penari, formula yang mirip-mirip, hanya saja dengan eksekusi yang lebih grande dan mahal.

Eksekusi filmnya yang niat banget di sisi produksi jadi agak melempem ketika kita menyimak lebih dalam tentang premis ceritanya.

Di mana ada sekumpulan orang yang masuk ke lingkungan baru sebagai tamu, lalu mereka diganggu oleh sosok-sosok tak kasat mata.

Awalnya penonton berfikir bahwa mereka diganggu karena mereka gak disukai, tapi ternyata karena diantara mereka ada yang melangkahi norma dan kemudian membuat marah si empunya istana.

 

Premis yang Sama

Premis yang sama, bahkan norma yang dilangkahi pun adalah norma yang sama seperti di KKN di Desa Penari, hanya di Pabrik Gula norma ini dikemas lebih eksplisit yang mungkin untuk beberapa penonton lomayan bikin mata terbelalak.

Hal yang membuat saya mengganjal adalah, dari sekian banyaknya dosa yang ada, kenapa dosa itu lagi yang menjadi tombak cerita?

Apakah dosa itu yang paling mudah digoreng di Indonesia?

Padahal kalau mau ngomongin dosa besar, di film ini masih ada dosa yang lebih besar yang dilakukan ketimbang dosa yang itu.

Sebenarnya gak ada yang salah dengan “adegan itu”, cuma untuk one of the most anticipated movies yang dirilis tahun ini, membuat beberapa penonton sedikit kecewa dengan premis ceritanya.

Overused adegan jumpscare  juga membuat banyak penonton kekenyangan dengan adegan ini.

Jumpscare yang udah terasa banget semenjak adegan awal film membuat penonton berasa seperti naik roller coaster selama 10 menit.

Awalnya penonton akan menikmati adrenaline rushnya tapi lama-lama jadi berasa pengen filmnya cepet selesai.

Tapi tetap, banyak poin yang patut diapresiasi dan mungkin award worthy.

Tingginya nilai produksi yang sangat terasa dari ambience filmnya, CGI yang gak pelit, dan set yang maksimal terlihat dari kebun tebu yang bener-benr ditanam sendiri tanpa menggunakan efek, treatmen yang hampir mirik di kebun jagung nya Christopher Nolan di film Interstelar.

Serta transisi yang halus sebelum adegan jumpscare  juga menambah nilai film ini dari film-film horor lain.

Selain itu, hadirnya komika di film ini juga mampu menjaga tensi dari film ini tetap stabil.

Di mana mereka mampu memberikan elemen komedi yang lumayan mengacak tensi untuk beberapa adegan, menjadikan film ini ada fresh scene yang membuat penonton tetap bertahan sampai akhir film.

Namun salah satu scene stealer yang wajib diberikan apresiasi adalah pemeran eyan-eyang, Budi Ros dan Dewi Pakis.

Membuktikan dedikasi dan jam terbang yang tinggi terpancar dari cara mereka memaksimalkan peran mereka di film ini.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *