Status Bandara Ahmad Yani dan Adi Soemarmo Jadi Domestik, Bagaimana Nasib 4 Bandara Lain di Jawa Tengah? – Liputan Online Indonesia

SEMARANG, liputanbangsa.comPenurunan status Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Adi Soemarmo menjadi bandara domestik menarik perhatian banyak pihak.

Sebelumnya, kedua bandara ini pernah memiliki status internasional.

Karena saat ini tidak ada penerbangan internasional, kedua bandara tersebut resmi beroperasi sebagai bandara domestik sejak tahun 2024.

Lantas, bagaimana dengan empat bandara lainnya yang berada di Jawa Tengah?

Di wilayah ini, terdapat enam bandara yang masih beroperasi hingga kini.

Mari kita tinjau kondisi masing-masing bandara tersebut dalam artikel ini.

Berikut adalah enam bandara di Jawa Tengah yang berhasil kami rangkum dari laman hubud. kemenhub. go. id:

1. Bandara Adi Soemarmo

Terletak di Kabupaten Boyolali, Bandara Adi Soemarmo dulunya merupakan bandara internasional, tetapi kini berstatus domestik.

Berdiri sejak tahun 1940, landasan pacunya memiliki panjang sekitar 3. 000 meter dan mampu menampung hingga 2,6 juta penumpang per tahun.

 

2. Bandara Ahmad Yani

Bandara Ahmad Yani, yang berlokasi di Kota Semarang, juga pernah memiliki status internasional.

Namun, saat ini hanya melayani penerbangan domestik.

Dengan landasan pacu sepanjang 2. 800 meter, kapasitas penumpangnya jauh lebih besar, mencapai sekitar 6,5 hingga 7 juta penumpang per tahun.

 

3. Bandara Dewadaru

Di urutan ketiga, kita ditemukan Bandara Dewadaru, yang tidak memiliki status internasional.

Terletak di Kepulauan Karimunjawa, tepatnya di Pulau Kemujan, Kabupaten Jepara, bandara ini memiliki landasan pacu yang lebih pendek, yaitu 1. 200 meter.

Bandara ini beroperasi secara umum untuk penerbangan domestik.

Nama Bandar Udara : DEWADARU

Kantor Otoritas : OTORITAS BANDAR UDARA WILAYAH III SURABAYA

Status Operasi : Umum

Penggunaan : Domestik

Hierarki : PS

Klasifikasi : 3C

Kelas : Kelas III

Pengelola : UPT Ditjen Hubud

 

4. Bandara Ngloram

Bandara Ngloram berlokasi di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 17 Desember 2021.

Dibangun pada tahun 1980, bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 1. 500 meter dan kapasitas penumpang yang cukup kecil, hanya sekitar 210 ribu orang per tahun.

Pada tahun 2025, diperkirakan akan ada lebih dari 8. 700 pesawat yang beroperasi di sini, dengan total penumpang mencapai lebih dari 1,2 juta.

Nama Bandar Udara : NGLORAM

Kantor Otoritas : OTORITAS BANDAR UDARA WILAYAH III SURABAYA

Status Operasi : Umum

Penggunaan : Domestik

Hierarki : P

Klasifikasi : 3C

Kelas : Satpel BU

Pengelola : UPT Ditjen Hubud

 

5. Bandara Jenderal Besar Soedirman

Bandara ini terletak di Kabupaten Purbalingga dan memiliki landasan pacu sepanjang 1. 600 meter.

Kapasitas penumpang bandara ini juga terbatas, hanya mampu menampung sekitar 200 ribu penumpang per tahun.

Bandara ini dioperasikan di bawah Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah III Surabaya dengan fokus pada penerbangan domestik.

Nama Bandar Udara : JENDERAL BESAR SOEDIRMAN

Kantor Otoritas : OTORITAS BANDAR UDARA WILAYAH III SURABAYA

Status Operasi : Umum

Penggunaan : Domestik

Hierarki : P

Klasifikasi : 3C

Kelas : Non Kelas

Pengelola : PT. Angkasa Pura Indonesia

 

6. Bandara Tunggul Wulung

Di urutan terakhir, kita memiliki Bandara Tunggul Wulung yang terletak di Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap.

Bandara ini memiliki panjang lintasan sebesar 1. 400 meter, dan berfungsi sebagai bandara domestik.

Nama Bandar Udara : TUNGGUL WULUNG

Kantor Otoritas : OTORITAS BANDAR UDARA WILAYAH III SURABAYA

Status Operasi : Umum

Penggunaan : Domestik

Hierarki : P

Klasifikasi : 3C

Kelas : Kelas III

Pengelola : UPT Ditjen Hubud

Dengan informasi di atas, kita dapat melihat perkembangan dan kondisi enam bandara yang ada di Jawa Tengah.

Terutama setelah perubahan status yang terjadi pada dua bandara utama.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *