KAJEN, liputanbangsa.com – Pedagang beras di Kabupaten Pekalongan keluhkan kian langkanya stok beras dari petani dan di ricemill. Mereka kesulitan kulakan beras. Akibatnya, harga beras di pasaran dalam sepekan terakhir terus merangkak naik.
Hingga Kamis (2/2/2023), harga beras kualitas medium di pasaran antara Rp 12.500 per kg hingga Rp 13.000 per kg.
Hal itu diungkapkan oleh Ipul (35), pedagang beras dari Desa Nyamok, Kecamatan Kajen, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan beras di rice mill di Kabupaten Pekalongan.
Padahal, pedagang langganannya sudah banyak. Bahkan terkadang, ia tak mampu memenuhi semua pesanan pelanggannya karena kesulitan mendapatkan pasokan beras yang bagus.
“Ada pelanggan yang pesan 4 karung, saya paling bisa ngasihnya 2 karung, agar semua langganan saya bisa dapat beras,” kata dia.
Ia mengatakan, dengan sulitnya mendapatkan beras yang bagus, harga beras pun naik.
“Harga beras per kilo saat ini di kisaran Rp 2.800 per kg hingga Rp 2.900 per kg. Di tingkat eceran, harga beras kelas medium berkisar di antara Rp 12.500 per kg hingga Rp 13.000 per kg,” ujarnya.
Unggul, pedagang beras dari Kesesi mengatakan, di Kecamatan Kesesi beras dari petani lokasl sudah jarang. Beras yang ada kebanyakan dari juragan dari wilayah timur seperti dari Batang dan Demak.
Harga kulakan beras di kecamatan ini sudah Rp 11.300 per kg dari pengepul. Di tingkat eceran, harga beras di Kesesi di kisaran Rp 12 ribu per kg hingga Rp 13 ribu per kg.
“Di Kesesi jika ada petani yang panen pun saat ini hanya ditebas oleh juragan lokal untuk diecer sendiri. Tidak sampai ke luar kota,” kata dia.
Langkanya beras ini, imbuhnya, diduga akibat bencana banjir kemarin. Daerah sentra beras di Pantura Jawa Tengah banyak yang gagal panen karena kebanjiran.
Sedangkan di wilayah Pekalongan sendiri, lanjut dia, tanaman padi rata-rata berumur kurang lebih dua bulanan. Sehingga diperkirakan panen raya akan terjadi pada awal bulan Maret nanti.
Sementara itu Kendi, petani padi dari Desa Kalimojosari, Kecamatan Doro, menuturkan, meskipun harga beras di tingkat pedagang cukup tinggi namun di tingkat petani keuntungannya relatif kecil. Bahkan bisa merugi tatkala serangan hama dan penyakit tanaman menyerang tanaman padi.
Ia menyebutkan, dengan luasan sawah 1.300 meter persegi, biaya produksinya sekitar Rp 1.830.000. Dengan rincian, biaya tenaga kerja garap sawah Rp 320 ribu, sewa traktor Rp 300 ribu, benih Rp 140 ribu, tenaga kerja untuk nandur Rp 300 ribu, pupuk 1 kwintal Rp 270 ribu, pestisida Rp 200 ribu, dan biaya penyiangan Rp 300 ribu.
“Kemarin tebasan di petani Rp 3 juta. Mepet sekali. Sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kalau hanya njagani dari sawah yang luasannya sedikit. Paling bisa untuk tabungan daripada ndak digarap,” bebernya.
Hal yang sama diungkapkan Abah, petani dari Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar. Ia mengatakan, keuntungan yang diperoleh petani sangat sedikit. Karena biaya produksinya mahal. Biaya tenaga kerja, benih, dan pupuk sekarang mahal semua.
“Untunge sitik. Gabah sekarang Rp 6500 per kg,” kata dia (dian/lbi)

