SEMARANG, liputanbangsa.com – Seleksi bintara polri di Jawa Tengah menghadirkan polemik, sebab pada saat pelaksanaan tes, listrik sempat mati di lokasi seleksi tes bintara di SMK Negeri 7 Semarang pada Selasa (16/5) lalu.
Peristiwa mati listrik itu terjadi dua kali. Sejumlah peserta tes bintara dan orang tua peserta kecewa, bahkan ada kecurigaan peristiwa tersebut disebabkan oleh rekayasa atau sabotase.
“Itu listriknya mati dua kali, terus kalau sudah menyala kita hanya diminta refresh tapi tidak boleh mengulang, hanya diperkenankan melanjutkan”, kata HM salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.
Beberapa orang tua peserta berencana melaporkan kejadian listrik mati saat tes bintara ini ke Propam Polda Jawa Tengah.
“Ini sudah tanda-tanda rekayasa sepertinya. Listrik mati, sampai dua kali, jawaban anak-anak berubah, tidak boleh mengulang, nilai yang gagal tes nyaris sama semua. Modus-modusnya jelas”, ungkap GH, salah satu orang tua peserta.
BACA JUGA:
Kapolri Perintahkan Pecat dan Pidanakan 5 Calo Bintara Polri Polda Jateng – Liputan Online Indonesia
Menanggapi hal tersebut, Polda Jawa Tengah mengklaim tidak ada sabotase atau rekayasa pada peristiwa tersebut.
Dari hasil pemeriksaan, listrik mati disebabkan gangguan beban puncak penggunaan listrik di SMK Negeri 7 Semarang yang berbarengan dengan perbaikan listrik di kawasan Jalan Pandanaran Semarang.
“Tidak ada sabotase, tak ada rekayasa, ini pas kebetulan saja listrik mati, itu pun cuma satu menit karena langsung otomatis beralih ke genset. Ditambah, memang ada perbaikan PLN di Jalan Pandanaran,” ungkap Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jawa Tengah Kombes Yohanes Ragil Heru.
Ragil menjelaskan saat listrik mati, semua jawaban dari peserta tes tersimpan perangkat penyimpanan. Namun, memang ada beberapa tes yang tidak dapat diulang atau direvisi sehingga peserta hanya boleh melanjutkan.
Pada hari Selasa (16/5) saat kejadian listrik mati, dari 144 peserta tes , ada sebanyak 85 orang peserta yang lolos masuk dalam kategori Memenuhi Syarat (MS) dan 59 orang peserta Tidak Memenuhi Syarat (TMS).
“Psikotes itu kan ada tiga, kecerdasan, kepribadian dan kecermatan. Kalau kecerdasan bisa direvisi atau diulang tapi kalau kepribadian dan kecermatan memang tidak bisa, itu sudah aturan dari pusat dan sistemnya begitu,” tambah Ragil.
Ragil menegaskan Polda Jawa Tengah tetap berkomitmen menjalankan rekrutmen Bintara secara clean and clear. Komitmen tersebut, dibuktikan dengan menunjukkan nilai peserta secara langsung oleh pihak panitia seleksi.
“Nilai langsung kita tunjukkan ke peserta dan itu tidak bisa direkayasa karena sistem terpusat,” ujar Ragil.
BACA JUGA:
(heru/lbi)

